Stop Net Neutrality, Apa Dampak di Dunia Digital? - Male Indonesia
Stop Net Neutrality, Apa Dampak di Dunia Digital?
MALE ID | Digital Life

Pada tanggal 14 Desember 2017 Federal Communications Commission (FCC) memutuskan untuk mencabut Net Neutrality. Aturan Net Neutrality sendiri sebelumnya telah ditetapkan oleh Presiden Barrack Obama pada 2015 silam. Kini sedang ramai dibicarakan di Amerika Serikat.

Net Neutrality, ISPPhoto by rawpixel.com on Unsplash

ketua Federal Communications Commission ( FCC) yang baru, Ajit Pai, mengusulkan proposal penghapusan aturan Net Neutrality pada akhir Mei 2017. Berbagai golongan masyarakat sontak memprotes ketetapan itu. Isitilah Net Neutrality sendiri awalnya berasal dari tesis Tim Wu, seorang profesor dari Universitas Columbia yang membahas tentang diskriminasi broadband. Lalu apa itu Net Neutrality?

Tanpa Net Neutrality, nantinya tidak ada yang menghentikan Internet Service Provider (ISP) atau ISP bisa semena-mena memblokir, mempercepat, atau memperlambat akses netizen ke konten tertentu. Efek lainnya, perusahaan besar dan kecil mungkin harus membayar ISP seperti dengan jumlah tertentu untuk memastikan produk, jasa, dan operasi mereka tidak melambat.

Sederhananya, prinsip dari Net Neutrality tersebut mengacu pada keadilan dan kebebasan netizen mengakses semua layanan yang tersedia di internet dengan perlakuan sama. Tidak boleh ada intervensi kepentingan dari operator atau penyedia layanan internet. Artinya, tidak ada situs yang jadi "anak emas" atau "anak tiri" dari penyedia jaringan.

Baca Juga: Media Sosial Lebih Baik Dibandingkan Tatap Muka?

Intinya, semua konten di internet, baik itu foto lucu, forum diskusi, website belanja online, video klip, berita politik, harus diperlakukan sama dan dikirimkan ke perangkat kita tanpa diskriminasi.

Kasus Pelanggaran yang Pernah Terjadi
kasus pelanggaran Net Neutrality yang fenomenal terjadi di Amerika serikat pada tahun 2008 ketika penyedia jasa internet terbesar di Amerika Serikat, Comcast, mengurangi kecepatan pelanggan mereka yang melakukan unduhan berkas menggunakan perangkat lunak Bittorrent.

Kasus serupa juga menimpa penyedia jasa sewa streaming film terkemuka di Amerika Serikat, Netflix, yang mendapati bahwa akses internet pelanggan ke jalur mereka dipangkas oleh Comcast karena dianggap boros data. Ini membuat pelanggan Netflix tidak bisa menikmati streaming film dengan kualitas tinggi (HD).

Di Indonesia, Anda mungkin tidak menyadari adanya secara tidak langsung berhubungan dengan pelanggaran Net Neutrality. Contoh kecil saja, saat sejumlah operator seluler dan ISP secara sengaja menyisipkan iklan tanpa sepengetahuan dan persetujuan pelanggan. Hal tersebut bisa dibilang merupakan pembajakan akses internet pelanggan. Bagaimanapun, pelanggan tidak bisa berbuat apa-apa karena hal tersebut merupakan wewenang ISP sebagai pengelola layanan internet.

Mengutip laman techinasia, Isu Net Neutrality juga semakin menguat di Indonesia setelah Mark Zuckerberg secara resmi meluncurkan Internet.org di Indonesia, dan di saat bersamaan menuai kontroversi di India. Program tersebut dianggap bertentangan dengan Net Neutrality. Karena misalnya, Tokopedia masuk dalam program Internet.org, sementara Bukalapak tidak, maka Bukalapak sebagai kompetitor merasa dirugikan karena Internet.org menjadi sumber pengunjung tambahan bagi Tokopedia atau sebaliknya. ** (SS)

SHARE