Anda Alergi Berhubungan Intim, Kok Bisa? - Male Indonesia
Anda Alergi Berhubungan Intim, Kok Bisa?
MALE ID | Sex & Health

Kaum pria disebut sebagai makhluk yang selalu memikirkan aktivitas seksual, namun benarkah banyak dari mereka yang alergi berhubungan intim? Hal itu bisa saja terjadi. Siapa tahu Anda juga punya keluhan akan alergi tersebut.

Male IndonesiaPhoto by Francisco Gonzalez on Unsplash

Jika Anda pernah merasakan hidung tersumbat, kelelahan dan keringat berlebih seusai ‘bercumbu’ dengan pasangan, besar kemungkinan Anda alergi berhubungan intim atau biasa disebut post-orgasmic illness syndrome (POIS). Sebuah kondisi cukup langka dimana Anda terkena gejala flu dan penyakit sejenisnya.

POIS pertama kali dilaporkan pada tahun 2002 lalu dan sedikitnya terdapat sekitar 50 kasus di dunia. Angka itu bisa meningkat apabila banyak dari mereka belum pernah mendengar istilah ini.

Berdasarkan hasil penelitian dari Tulane University School of Medicine di New Orleans, Amerika Serikat, ditemukan fakta bahwa POIS adalah sebuah kondisi langka yang kurang didiagnosis apalagi dilaporkan. Mereka berharap ada studi mendatang demi menelusuri prevalensi, patofisiologi serta pengobatan terhadap kondisi yang merugikan para pria.

Pria yang terjangkit alrergi ini senantiasa merasa lelah, lemas, demam, emosi tidak stabil, hidung tersumbat dan rasa gatal di bagian mata paska bercinta. Dimana kondisi itu bakal terjadi selama kurun waktu yang sulit ditentukan. Bisa hitungan detik, menit atau beberapa jam setelah ejakulasi. Dan yang paling parah yaitu bisa bertahan antara dua hari sampai satu minggu.

Meskipun gejalanya sudah diketahui, penyebab alergi berhubungan intim pada pria masih menjadi misteri. POIS seringkali terjadi karena alergi sperma. Yakni sebuah reaksi alergi terhadap protein yang ditemukan di saat pria tengah ejakulasi.

Sementara teori lain menyebutkan banyak di antara pria mengalami gangguan dimana berpengaruh kepada reseptor opioid endogen (endorfin). Kondisi tubuh tidak mampu mengontrol dan mengatasi endorfin yang dilepaskan ketika hubungan seksual berlangsung.

Tanpa mengetahui penyebab kondisi tersebut dengan pasti, maka pengobatannya terasa sulit dilakukan. Sejumlah pria mencoba menggunakan benzodiazepin, antihistamin serta inhibitor serotonin selektif yang biasa dimanfaatkan sebagai anti-depresan.

Sebuah studi juga melakukan uji coba menggunakan hiposensitisasi demi mengobati dua orang pria. Terapi bertujuan menurunkan respons alergi mereka melalui paparan. Semakin mereka mengalami ejakulasi maka semakin rendah pula gejala POIS mereka. Dengan kata lain, walau gejalanya tidak sepenuhnya sembuh setidaknya sudah diredam sebaik mungkin. Ironisnya, kondisi tersebut memberi dampak pada kehidupan seks pria, bahkan cenderung mengurangi minat untuk berhubungan intim.

SHARE