Media Sosial Lebih Baik Dibandingkan Tatap Muka? - Male Indonesia
Media Sosial Lebih Baik Dibandingkan Tatap Muka?
MALE ID | Digital Life

Media sosial bisa dikatakan cara yang bagus untuk tetap berhubungan antar kerabat atau teman. Tetapi para ahli mengatakan, tatap muka tetap perlu dilakukan. Pasalnya, sekarang pergeseran memang telah terjadi di dunia digital, di mana sebagian besar orang percaya kontak secara media sosial justru lebih bagus daripada tatap muka.

social media, tatap muka, media sosialPexels.com

Hal tersebut merupakan temuan dari survei yang dilakukan Deloitte, yang melacak kebiasaan orang-orang digital dari Australia dan diterbitkan dalam jurnal survei tahunanannya. Hasil survei tersebut menyimpulkan bahwa media sosial sekarang telah tertanam dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, komunikasi lewat jejaring sosial saat pertama kalinya lebih produktif jika dibandingkan dengan pertemuan secara langsung.

Lebih dari itu, separuh dari responden penelitian (51 persen) mengatakan, waktu yang dihabiskan dalam berinteraksi semuanya melalui media sosial. Ahli Psikologi Meredith Fuller tidak terkejut dengan hasil tersebut. Mengingat kini dunia telah dalam genggamannya kepada setiap orang dengan komunitas online di dalamnya.

Baca Juga: Media Sosial Mengubah Cara Orang Mengingat

Ali Cavill, seorang instruktur kebugaran yang juga pengguna media sosial, percaya bahwa media sosial adalah sesuatu yang berharga. "Dalam kehidupan kita yang sibuk, memeriksa media sosial seperti facebook, twittter atau teks dua kali dalam satu minggu mungkin lebih berharga darispada kunjungan (tatap muka) yang waktunya hanya satu bulan sekali," tutur dia seperti mengutip dari laman smh.com.au.

Selain itu, sebagai instruktur kebugaraan, menurutnya media sosial juga penting dalam hubungannya dengan klien kebugarannya. Para klien dapat menghubunginya setiap wantu. "Dan itu yang terpenting," lanjutnya.

Padahal, jika diperhatikan, komunikasi di dunia nyata memiliki manfaat bahasa tubuh, suara, dan sentuhan.  "Mari kita jujur, ketika semua orang tatap muka, nongkrong misalnya, dengan secangkir kopi masing-masing. Dibandingkan dengan chatting yang tidak memiliki apa pun, mereka hanya fokus dengan gawai mereka," ucap Meredith Fuller.

Psikolog Klinis Ben Buchanan juga ikut berkomentar terkait hal ini, ia mengatakan penggunaan emoticon dianggap berhasil untuk mengompensasi kurangnya isyarat bahasa tubuh yang dimaksud Fuller. "Penelitian menunjukan bahwa pesan dengan emoticon dianggap lebih pribadi dan sering berhasil menumbuhkan rasa koneksi antara individunya," ucap Buchanan.

Kacamata Buchanan mengatakan, media sosial tetap penting untuk mereka yang merasa terisolasi dalam hal pergaulan, kareana media sosial dapat menjadi alat yang hebat untuk membantu orang-orang kembali dekat dengan teman-temannya. "Bahkan, digunakan secara luas untuk orang-orang yang memiliki fobia sosial sebagai batu loncatan untuk menikmati interaksi dunia nyata," tutur dia.

Namun, fuller tetap percaya bahwa hubungan virtual tidaklah sehat dibandingkan dengan dunia nyata. Setidaknya, manusia harus tetap sehat dalam sebuah hubungan komunikasi, minimal membutuhkan 3 sampai 5 hubungan yang signifikan.

Jadi, sosial atau tatap muka? salah satunya bisa menjadi lebih baik tergantung siapa yang menggunakannya. Bagaimana dengan Anda? ** (SS)

SHARE