Hercule Poirot, Detektif Jenius Pengidap OCD - Male Indonesia
Hercule Poirot, Detektif Jenius Pengidap OCD
MALE ID | Story

Penggemar novel misteri pembunuhan dapat dipastikan paham betul apabila disebutkan sosok Detektif Hercule Poirot. Ya, tubuhnya kecil, bentuk kepala bagaikan telur disertai kumis yang dipilin ke atas dan cara berjalan elegan. Kira-kira seperti itulah gambaran paling pas mengenai dirinya.

detektif hercule poirot
Jose Camões Silva/Flickr.com

Poirot menjadi salah satu tokoh fiksi literatur yang mendunia. Ia muncul di sebanyak 33 novel dan 50 cerita pendek yang dipublikasikan dalam rentang waktu antara tahun 1920 sampai 1975. Penciptanya tidak lain adalah Agatha Christie, penulis kisah kriminal dan misteri tersohor di era keemasan genre fiksi detektif. Sang penulis menciptakan tokoh ini di tengah-tengah meletusnya Perang Dunia I.

Banyaknya pengungsi dari Belgia merangsek masuk ke tanah Inggris kala itu telah mengubah dunia. Pasalnya, hal tersebut menginspirasi Agatha untuk menulis cerita mengenai seorang pengungsi sekaligus mantan anggota kepolisian asal Belgia yang lantas membuka kantor detektif swasta di Inggris. Menurut sejumlah sumber, nama Detektif Hercule Poirot diyakini berasal dari dua tokoh fiksi lainnya. Yakni Hercule Popeau karangan Marie Belloc Lowndes serta Monsieur Poiret karangan Frank Howel Evans.

Detektif flamboyan ini pertama kali muncul di novel perdana Agatha berjudul “The Mysterious Affair at Styles” (1920), sebelum dilanjutkan oleh sang penulis dengan kisah Murder On The Link (1923). Kedua novel itu dinarasikan sahabat sang detektif, Kapten Arthur Hastings. Akan tetapi ia (Hastings-red.) baru populer di Murder of The Roger Ackroyd (1926), dimana akhir ceritanya berada di luar perkiraan.

Diceritakan bahwa Detektif Hercule Poirot menetap di Flat 203 yang sekaligus menjadi tempat kerjanya beralamat di 56B Whitehaven Mansions. Para pemohon sering berkunjung ke rumah Poirot dan memintanya menangani berbagai jenis kasus. Bahkan sudah tak terhitung berapa banyak permintaan Inspektur Japp dari Scotland Yard kepada Poirot demi memecahkan kasus-kasus rumit.

Seperti yang telah dijelaskan di paragraf sebelumnya, Ia dikenal akan segala sisi uniknya. Mulai dari perawakan, sifat sampai metodenya dalam memecahkan kasus. Hastings menggambarkan, Poirot adalah sosok dengan tinggi badan sekitar 162 cm, kepalanya berbentuk telur dan berhias kumis tegas nan rapi. Bukan cuma itu, gaya bicaranya dalam aksen Belgia begitu kental meski sedang berkomunikasi dalam bahasa Inggris.

Tahu sosoknya berarti Anda juga paham kebiasaannya. Detektif Hercule Poirot sangat teratur, tergila-gila kebersihan dan cenderung perfeksionis. Ia tak tahan jika ada debu, noda atau lipatan di pakaian yang ia kenakan. Apalagi melihat sebuah dasi atau lukisan terlihat miring dan tidak simetris, meski hanya melenceng satu milimeter sekalipun. Seakan memperlihatkan sosoknya sebagai pengidap obsessive compulsive disorder (OCD).

Sedangkan, metodenya menangani kasus lebih mengedepankan sisi psikologis. Ia bukan seorang ahli forensik yang mengerti bedah mayat dan segala sesuatu terkait dunia medis. Menganalisis sesuatu di tempat kejadian perkara pun bukan gayanya, melainkan hanya mengandalkan analisis sebab-akibat dari kejanggalan yang ia temukan. Seperti pada novel berjudul Evil Under the Sun, ketika pembunuh memanfaatkan trik psikologis untuk mengelabui mata manusia sebelum akhirnya Poirot berhasil membongkar trik tersebut. Metode inilah yang disebut dengan “sel-sel kelabu”.

Sang detektif pun “meninggal dunia” dalam novel berjudul Curtain yang ditulis tahun 1940, namun baru diterbitkan pada tahun 1975 setelah kepergian Agatha Christie. Kisah kematian Hercule Poirot memberikan dampak luar biasa, terutama bagi para penggemarnya. Bahkan salah satu surat kabar terkenal di New York memuat berita kematian Poirot disertai ilustrasi layaknya kematian tokoh terhormat di dunia nyata. Sampai sekarang, novel karangan Agatha Christie dan Detektif Hercule Poirot mendapatkan tempat tersendiri di hati para pecinta novel misteri.**GP

SHARE