Kemeja Flanel, Simbol Pekerja Kelas Menengah | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Kemeja Flanel, Simbol Pekerja Kelas Menengah
Gading Perkasa | Story

Kemeja flanel seringkali diidentikkan dengan para pekerja keras yang terjun langsung ke lapangan. Hal ini tidak lepas dari asal-usul ditemukannya pakaian berbahan flanel. Dimana memiliki rekam jejak begitu panjang dan menarik.

kemeja flanelpxhere.com

Dilihat dari sejarahnya, kemeja flanel pertama kali ditemukan pada awal abad ke-16 di Wales dengan sebutan flannelette. Saat itu para petani di sana memakai pakaian hangat dan agak tebal untuk melindungi diri mereka dari hawa dingin ataupun ranting pohon. Awalnya flanel dibuat dari benang wol yang digaruk pada proses finishing. Sementara produksinya dilakukan secara tradisional

Menginjak abad 18, Revolusi Industri mengakibatkan adanya perubahan besar-besaran di dalam praktisi industri. Flanel mulai diproduksi secara massal mengikuti perkembangan zaman. Mengingat biaya bahan baku cukup tinggi, bahan wol lambat laun tergantikan oleh serat kapas (cotton), campuran sutera serta serat sintetis.

Seorang warga Michigan, Amerika Serikat bernama Hamilton Carhatt mendirikan perusahaan bernama Carhatt di tahun 1889. Perusahaan ini berjuang sebaik mungkin menciptakan pakaian tahan lama, nyaman dikenakan namun tetap berkarakter bagi para pekerja lapangan. Carhatt mengklaim sebagai penemu kemeja berbahan flanel termasuk motif kotak-kotak yang terinspirasi dari busana tradisional Skotlandia, Kilt.

Dua abad berselang, flanel bukan cuma difungsikan menghalau cuaca dingin. Melainkan juga disesuaikan pada musim lain. Bahannya dimodifikasi menjadi lebih tipis dan ringan, sehingga orang dapat memakainya di cuaca hangat.

Flanel pun merambah ke Amerika Utara. Penggunaan motif kotak-kotak identik dengan para pekerja lapangan antara lain petani, gembala, penebang pohon, pekerja tambang dan siapapun mereka yang bekerja di luar ruangan. Karena kehangatan serta daya tahannya, mereka (pekerja lapangan-red.) bebas bekerja dalam jangka waktu lama pada suhu ekstrem.

Saat Perang Dunia I pecah di tahun 1914, flanel digunakan sebagai seragam dan selimut di medan pertempuran. Namun semua berubah seketika manakala perang dunia berakhir. Perbedaan kelas menjadi tampak bias. Kemeja flanel ‘naik kasta’ dan dimiliki seluruh lapisan masyarakat, sekaligus sebagai perlambang kejantanan pria.

Pada 1939, Kota Cedar Springs di Michigan menyelenggarakan Red Flannel Festival secara rutin dan terkenal ke berbagai penjuru karena memproduksi sweater berbahan flanel berwarna merah. Anda masih bisa menjumpai festival tersebut sampai detik ini, dimana jatuh pada setiap pekan terakhir September dan awal pekan di bulan Oktober.

Para musisi juga turut andil mengenalkan kembali kemeja berbahan flanel seperti The Beach Boys yang berpose mengenakan flanel sembari mengangkat papan luncur pada cover album mereka, Surfer Girl. Dan puncaknya di era 90-an, grup band asal Seattle, Nirvana bersama Kurt Cobain dan Pearl Jam kian mempopulerkan flanel bermotif kotak-kotak. Masa kejayaan musik grunge kala itu ditandai dengan perubahan gaya fashion kaum muda. Jaket kulit berangsur hilang, mereka berduyun-duyun mengenakan kombinasi kemeja flanel, celana jeans ditambah sepatu boots atau sneakers. Sampai sekarang, flanel tetaplah menjadi tren yang abadi.**GP

SHARE