Internet Mengubah Rasa Percaya antar Manusia | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Internet Mengubah Rasa Percaya antar Manusia
Sopan Sopian | Digital Life

Sadar atau tidak internet mengubah rasa percaya dan keyakinan seseorang terhadap orang lain. Dahulu, setiap orang dianjurkan untuk tidak percaya pada orang asing. Namun, dengen berkembangnya teknologi rasa percaya itu berubah atau bergeser. 

Internet mengubah rasa percaya Photo by Redd Angelo on Unsplash

Ambil contoh mudah saja. Saat moda transportasi memiliki aplikasi. Bagimana setiap orang dapat dengan mudah memesan dan rasa percaya atau ketakutan akan orang asing, hilang. Bahkan bisa dikatakan rasa percaya terhadap orang yang belum dikenal meningkat.

Namun pergeseran itu berubah saat orang telah dirundung hoax. Bagimana media menjadi sumber bullying dan lembaga perbankan yang menawarkan segala cara kemudahan menjadi sebuah "omong kosong" belaka. Namun ini terjadi di sebuah kota-kota besar, tetapi tidak menutup kemungkinan akan merambah pada daerah-daerah.

Penulis buku Who Can You Trust? How Technology Brought Us Together – and Why It Could Drive Us Apart sekaligus dosen University of Oxford Saïd Business School, Rachel Botsman mengatakan bahwa saat dirinya menenggelamkan diri untuk memahami bagaimana rasa percaya di era digital benar-benar berubah.

Baca Juga: Invasi Kecerdasan Buatan di Beberapa Disiplin Ilmu

"Jadi saya mulai bertanya-tanya apakah munculnya teknologi memfasilitasi kepercayaan antara orang asing yang terhubung dalam beberapa cara?" tutur dia seperti dikutip futurism.

Saat kepercayaan itu bergeser, Botsman hal itu dapat berbahaya. Pasalnya rasa percaya berfungsi untuk memperkuat siklus ketidakpercayaan. Sebab, seseorang tidak akan bisa bertahan hidup tanpa rasa percaya. Sebuah masyarakat tidak dapat bertahan hidup, dan itu pasti tidak dapat berkembang tanpa kepercayaan.

Untuk waktu yang lama dalam sejarah, kepercayaan telah mengalir ke atas ke arah para CEO, menuju ahli, akademisi, ekonom, dan regulator. "Sekarang yang sedang terbalik - kepercayaan kini mengalir ke samping, antara individu, 'teman', teman sebaya dan orang asing. Ada banyak kepercayaan di luar sana, itu hanya mengalir ke orang yang berbeda dan tempat," kata dia.

Kemudian, berbicara kepercayaan seseorang terhadap sebuah berita, Botsman pun mengatakan bahwa setiap individu memiliki tanggung jawab untuk berpikir tentang di mana seseorang menempatkan kepercayaan terhadap orang lain. Maka jika sebuah media ingin dipercaya, fakta tetap menjadi sumber utama. Jangan sampai setiap individu mendapatkan sebuah kabat melalui Facebook.

"Misalnya, jika kita ingin berkualitas tinggi, media jurnalisme fakta-diperiksa, kita harus membayar untuk itu dan tidak mendapatkan berita kami langsung dari Facebook," tutur dia. 

Lalu, ketika era digital mengeser kepercayaan dan lebih mempercayai sebuah alogaritma atau internet, lalu siapa yang harus dipercaya? Itu semua dapat Anda jawab oleh setiap individu. ** (SS)

SHARE