Mira Lesmana dan Riri Riza Serta Keindonesiaannya | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Mira Lesmana dan Riri Riza Serta Keindonesiaannya
Sopan Sopian | News

Nama Mira Lesmana dan Riri Riza dalam dunia perfilman Indonesia sudah tidak diragukan lagi. Berbagai film yang telah diproduksinya kerap mendapatkan sambutan hangat dari para pecinta film.

Sebut saja beberap film yang populer seperti Petualangan Sherina (2000), Gie (2005), Laskar Pelangi (2008), Sang Pemimpi (2009), Pendekar Tongkat Emas (2014) Hingga Ada Apa dengan Cinta 2 (2016) menjadi film terlaris atas duet keduanya.

Bernama lengkap Mohammad Rivai Riza, dalam langkah perdananya menapaki dunia film adalah ketika berkolaborasi dengan rekan sineasnya, Mira Lesmana, Nan Achnas and Rizal Mantovani, dalam pembuatan omnibus film Kuldesak (1998). Masing-masing dari mereka menulis dan menyutradarai satu segmen dari empat cerita yang bergulir dalam kesatuan film tersebut, dan bersama-sama mereka memproduseri Kuldesak secara independen.

Film ini kemudian menjadi monumental dalam sejarah perfilman Indonesia yang kala itu sedang tidak bergairah. Selain karena sukses memperkenalkan konsep pembuatan film yang berdikari, Kuldesak juga menghembuskan semangat penuh percaya diri bahwa sinema Indonesia akan bangkit kembali.

Sedangkan Mira Lesmana, wanita kelahiran Agustus 1964 ini selain sebagai sutradara, produser dan pemilik Miles Films ini adalah seorang penulis lagu. Dengan rumah produksi yang didirikannya, Miles Productions –kemudian dikenal dengan nama Miles Films– Mira terus berkarya dan berprestasi.

Ia memproduksi dua film box office nasional yang fenomenal, Petualangan Sherina (2000) dan Ada Apa dengan Cinta? (2002), keduanya bukti nyata bahwa film-film lokalbisa memiliki daya saing yang tinggi ketika dibuat dengan baik dan seksama, bahkan dapat mengalahkan jumlah penonton film Hollywood maupun film import lainnya.

Mengutip laman milesfilm, dibalik kemampuan cemerlangnya membuat film-film yang sukses secara komersil, Mira juga meluangkan waktu dan energinya untuk membuat karya-karya film yang lebih artistik, dengan skala produksi lebih kecil, seperti Eliana Eliana, 3 Hari untuk Selamanya, dan Atambua 39celsius

Ketiga judul tersebut -juga film Gie yang epik dan bersejarah-  merupakan hasil kolaborasi Mira dengan Sutradara Riri Riza yang menarik perhatian dan  membuahkan sejumlah penghargaan di kancah internasional. 

Jika diperhatikan, tema yang diusung dan disebutkan di atas, tidak lepas dari unsur lokalitas atau kental akan unsur Indonesia. Ditemui di Kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Mira Lesmana dan Riri Riza menjawab perihal tersebut. 

"Semua keturunan saya hidup dan makan banyak dari Indonesia. Ayah saya pejuang revolusi. Setiap kali membuat cerita menggambarkan Indonesia luar biasa," tutur Riri Riza kepada MALE Indonesia.

Disambung Mira Lesmana, bahwasannya Indonesia telah menyadarkan dengan kekayaannya mulai dari budaya, kuliner, alam, dan semangat. "Saya melihat semangat dan kekompakan Indonesia hingga sekarang. Maka itulah yang membuat kita kagum atas Indonesia dan kami mencoba menuangkannya dalam film," tutur dia.

Sebagai informasi, duet sineas ini kini telah merampungkan shooting "Humba Dreams" dan telah masuk dapur produksi. Kemudian, ada satu film lagi tentang tokoh sastra Indonesia yang masih dalam proses penulisan skenario, yakni "Chairil Anwar". ** (SS)

SHARE