Invasi Kecerdasan Buatan di Beberapa Disiplin Ilmu - Male Indonesia
Invasi Kecerdasan Buatan di Beberapa Disiplin Ilmu
Sopan Sopian | Digital Life

Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan terus dikembangkan oleh perusahaan-perusahaan raksasana dunia. Hal itu untuk terus membuat inovasi teknologi lebih cangih.

kecerdasan buatan
Pixabay.com

Tujuannya jelas, kecerdasan buatan diciptakan agar dapat melakukan pekerjaan seperti yang dapat dilakukan manusia. Beberapa macam bidang yang menggunakan kecerdasan buatan antara lain sistem pakar, permainan komputer (games), logika fuzzy, jaringan syaraf tiruan dan robotika.

Mengutip laman wikipedia, secara garis besar, AI terbagi ke dalam dua paham pemikiran yaitu AI Konvensional dan Kecerdasan Komputasional (CI, Computational Intelligence). AI konvensional kebanyakan melibatkan metode-metode yang sekarang diklasifiksikan sebagai pembelajaran mesin, yang ditandai dengan formalisme dan analisis statistik. Dikenal juga sebagai AI simbolis, AI logis, AI murni dan AI cara lama (GOFAI, Good Old Fashioned Artificial Intelligence).

Perdebatan tentang AI yang kuat dengan AI yang lemah masih menjadi topik hangat di antara filosof AI.  Roger Penrose dalam bukunya The Emperor's New Mind dan John Searle dengan eksperimen pemikiran "Ruang China" berargumen bahwa kesadaran sejati tidak dapat dicapai oleh sistem logis formal.

Sementara Douglas Hofstadter dalam Gödel, Escher, Bach dan Daniel Dennett dalam Consciousness Explained memperlihatkan dukungannya atas fungsionalisme. Dalam pendapat banyak pendukung AI yang kuat, kesadaran buatan dianggap sebagai urat suci (holy grail) kecerdasan buatan.

Namun, jika melihat beberapa sumber, hal tersebut berangsur-angsur segara terwujud. Pasalnya, seperti diungkap di awal paragraf, bahwa beberapa perusahaan besar dunia telah mengembangkan hal ini. Bahkan, kecerdasan buatan yang sedang dikembangkan tersebut tidak hanya untuk menggantikan sebuah kegiatan yang dilakukan manusia, seperti robotik. Namun kecerdasan ini diciptakan atau dikembangkan untuk segala disiplin ilmu, salah satunya adalah seni.

Mengutip dari berbagai sumber, berikut beberapa kecerdasan buatan yang sedang dikembangkan, dan hal ini tidak mustahil akan menjadi kenyataan dan tidak lagi ada perdebatan di masa depan.

1. Emotion API project
Program kecerdasan ini merupakan kecerdasan buatan pada robotik yang dikembangkan oleh Microsoft. Emotion API project merupakan sebuah cloud-base engine yang bisa mendeteksi emosi seseorang dari ekspresi wajahnya.

2. Deep Mind
Perusahaan raksasa lainnya adalah google. Rasanya memang aneh jika Google tidak terlibat untuk inovasi masa depan ini. Google diketahui mengembangkan dua kecerdasan buatan. Pertama mirip apa yang dikembangkan Microsoft, yakni kecerdasan pada robotoik yang dinamakan Deep Dream System

Cara kerjanya sebenarnya ialah mengambil gambar dari internet lalu merubah gambar tersebut menjadi gambar yang aneh layaknya gambar dalam mimpi dalam tidur manusia.

Yang kedua adalah Deep Mind, sebuah kecerdasan buatan untuk menerawang atau memprediksi masa depan. Kemampuan tersebut bukan menerawang bak paranormal, melainkan menimbang beberapa keputusan dan membuat rencana untuk masa depan tanpa instruksi dari manusia.

Dalam mengembangkan kecerdasan buatan tersebut, para peneliti Deep Mind menggabungkan beberapa pendekatan sekaligus. Dua di antaranya adalah reinforcement learning yang berarti belajar melalui percobaan dan deep learning yang meniru cara otak manusia menyimpan informasi raksasa dalam bentuk jaringan.

3. DeepFaceLIFT
Dalam dunia kedokteran pun tidak ingin untuk hal inovasi teknologi ini. Kecerdasan buatan yang dibuat di bidang kedokteran adalah DeepFace LIFT, kemampuannya adalah untuk menilai seberapa besar rasa sakit yang dirasakan pasien dengan obyektif.

Fengjiao Peng dari Media Lab di MIT beserta tim mengembangkan algaritma untuk DeepFaceLIFT dengan memberikan video orang-orang yang mengalami nyeri, misalnya rasa nyeri bahu. Sayangnya, hasil identifikasi DeepFaceLIFT sejauh ini belum memuaskan. Untuk identifikasi rasa sakit, analisa dari dokter sungguhan masih tetap diperlukan.

4. Baidu pada Dunia Seni
Mesin pencari asal Tiongkok, Baidu pun tidak ingin kalah dengan seniornya, Google. Diketahui, Baidu membangun AI untuk berbagai jenis tugas, memiliki pemikiran lain. Apa yang bisa ditawarkan AI untuk dunia seni? Dalam pameran yang baru saja digelar di Pusat Seni Kontemporer Beijing, perusahaan ini memamerkan jawaban awal untuk pertanyaan itu: sebuah AI yang menganalisis lukisan dan kemudian menyusun musik asli terinspirasi oleh karya tersebut. ** (SS)

SHARE