Bahaya Vape Mengancam Kesehatan, Benarkah? - Male Indonesia
Bahaya Vape Mengancam Kesehatan, Benarkah?
MALE ID | Sex & Health

Kaum pria milenial dewasa ini mulai meninggalkan kebiasaan merokok dengan menghisap vape, namun tidak sedikit orang justru menganggap bahwa bahaya vape jauh lebih besar. Benarkah demikian?

Pexels.com

Anggapan tersebut sampai sekarang masih sulit dibuktikan kebenarannya. Pasalnya, kandungan zat kimia di dalam vape jauh lebih sedikit. Begitu pula kandungan nikotin maupun tar serta karbon monoksida-nya. Atas dasar ini kemudian mempengaruhi persepsi orang bahwa vape tidak berbahaya bagi tubuh manusia.

Ada sejumlah pihak menyebutkan, zat kimia yang berbahaya mengancam para penghisap vape. Seperti dilansir dari klikdokter.com, sedikitnya terdapat lima bahaya vape yang wajib diketahui. Berikut penjabarannya.

Baca juga: Menghisap Vape di Negara ini Merupakan Tindakan Ilegal

  1. Kandungan zat kimia vape berujung pada efek kecanduan. Vape diduga sama berbahayanya dengan rokok dan bisa berdampak buruk bagi tubuh.
  2. Anak kecil yang menghirupnya terindikasi terganggu perkembangan otaknya. Sementara bagi ibu hamil dapat memengaruhi kesehatan janin dalam kandungan.
  3. Menimbulkan gangguan di sekitar pembuluh darah arteri. Vape mengacaukan kinerja jantung.
  4. Dapat menganggu fungsi regenerasi sel paru-paru sehingga tubuh lebih rentan terhadap berbagai infeksi bakteri.
  5. Penggunanya berpotensi terjangkit penyakit kanker. Karena kandungan zat di dalam vape menghasilkan nitrosamine, pemicu sel kanker di dalam tubuh.
Dari seluruh penjelasan di atas, bahaya vape bagi kesehatan tampak cukup menghantui penggunanya. Sementara itu menurut RN Hendra, Dokter Umum sekaligus CEO Hard Rock Vape head to head antara vape dan rokok sangat jauh berbeda. Dimana fungsi vape adalah alternatif pengganti rokok.

Ia menjelaskan, tingkat keamanan vape di angka 95% dan sudah terbukti secara ilmiah. Walau masih ada 5% yang belum diketahui. “Vape itu sangat bagus untuk terapi pengganti rokok. Banyak dari pasien saya merupakan perokok berat. Namun setelah menerapkan metode vaping, mereka semua berhenti merokok secara total dan beralih ke vape. Ada satu pasien pada akhirnya berhenti mengonsumsi keduanya,” ujar Hendra.

Di samping itu, Hendra juga menambahkan berdasarkan data dari luar negeri bahwa ibu hamil diperbolehkan mengonsumsi vape, apabila sebelumnya ia adalah seorang perokok berat. “Kalau ibu hamil tersebut tidak bisa menahan keinginannya merokok, boleh saja vaping. Asalkan, smokingnya berhenti total. Tujuan akhirnya, tentu berhenti keduanya. Reducing harm saving lives,” kata Hendra.

Lalu bagaimana dengan tanggapan Anda setelah membaca penjelasan di atas? Semuanya kembali kepada keputusan Anda sendiri. **GP

SHARE