Gadget Canggih yang Anehnya Gagal Diterima Pasar | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Gadget Canggih yang Anehnya Gagal Diterima Pasar
Gading Perkasa | Digital Life

Zaman yang berkembang semakin maju membuat seseorang mendapatkan gadget canggih sudah dirasa lumrah. Manusia dimanjakan oleh berbagai hal bersifat instan dan cenderung malas lantaran kecanggihan teknologi.

Dari sekian banyak gadget canggih tersebar di seluruh penjuru dunia saat ini, rupanya tak sedikit developer harus mengalami nasib tragis dengan produk besutannya. Apa yang mereka gembar-gemborkan gagal diterima pasar, kerugian pun sulit terelakkan.

Yang lebih anehnya, produk mereka ‘mati’ bukan karena cacatnya tampilan gadget atau review buruk dari para ahli. Melainkan kalah pamor oleh pesaingnya yang menciptakan produk serupa, harga terlalu tinggi dan spesifikasi terbatas. Ada pula indikasi bahwa gadget tersebut dianggap melampaui zaman.

Lantas seperti apa gadget canggih yang harus layu sebelum berkembang? Inilah beberapa di antaranya.

Baca juga: Gadget Semakin Lambat? Ketahui Penyebabnya

Google Glass
Perangkat besutan Google ini sempat membuat publik berharap tinggi. Google Glass merupakan kacamata futuristik dimana fungsinya mirip smartphone dan dibekali kamera. Sayang, sebagian besar orang merasa fungsinya terlalu canggih untuk digunakan pada zaman sekarang sehingga Google urung mengembangkannya lebih jauh lagi.

Hoverboard
Barangkali Anda pernah mengetahui produk bernama Hoverboard. Sempat digadang-gadang menjadi tren alat transportasi di masa depan, namun hanya satu kekurangannya. Kasus ledakan baterai perangkat Hoverboard yang marak membuat penjualannya merosot dan terpaksa dihentikan.

Fire Phone
Sejatinya Fire Phone adalah salah satu smartphone tercanggih dalam urusan fotografi. Pasalnya, perangkat yang diluncurkan oleh Amazon pada 2014 ini dibekali kamera tiga dimensi. Entah mengapa, masyarakat kurang antusias menyambutnya. Akibatnya, Amazon harus menanggung kerugian senilai 170 juta USD.

Microsoft Zune
Pemutar musik bernama Zune diciptakan oleh Microsoft demi menjegal eksistensi iPod. Apa daya, menggeser pionir bukan perkara gampang. Target penjualan tak terpenuhi, Microsoft pun mengambil tindakan dengan menghentikan produksi Zune.

Sony P
Siapa menyangka, pabrikan sekaliber Sony asal Jepang yang notabene sudah terkenal akan inovasinya di bidang teknologi pun pernah mengalami kegagalan. Beberapa tahun lalu mereka merilis Sony P, sebuah tablet unik yang bisa dilipat dan memiliki dua layar masing-masing berukuran 5,5 inci. Mengapa gadget dua layar ini malah tidak laku? Pihak Sony hanya membekali memori internal sebesar 4 GB. Pantas saja masyarakat enggan membelinya.

Segway
Setali tiga uang dengan Hoverboard, Segway sempat disebut-sebut akan menggantikan moda transportasi konvensional di masa mendatang. Dan semua itu tinggal wacana. Tingginya harga membuat masyarakat tidak sanggup meminang Segway.

Samsung Galaxy Note 7
Hampir bisa dipastikan setiap pengguna gadget terpikat pada pesona Samsung Galaxy Note 7. Bagaimana tidak, smartphone ini dilengkapi layar Gorilla Glass 5, fitur iris scanner dan menjadi seri Note pertama yang bisa ‘diajak’ basah-basahan. Apa lacur, tragedi ledakan ratusan unit memaksa pabrikan elektronik asal negeri ginseng tersebut harus menyudahi kiprah Galaxy Note 7 di pasaran.

iPod Hi-Fi
Di tahun 2006, Apple bekerja sama dengan Bose dan menghasilkan speaker stereo bernama iPod Hi-Fi. Produknya juga mendapat review positif dari berbagai pihak. Tetapi kenyataan berkata lain. Inovasi yang dilakukan Apple terbukti sia-sia akibat banderol harga terlalu tinggi.**GP

SHARE