Kegagalan Timnas De Oranje Menapaki Piala Dunia - Male Indonesia
Kegagalan Timnas De Oranje Menapaki Piala Dunia
MALE ID | Sport & Hobby

Belum lama ini ramai pembicaraan mengenai penyebab kegagalan Belanda menapaki ajang sepakbola paling bergengsi, Piala Dunia. Timnas De Oranje harus rela mengubur impiannya berlaga di Rusia. Dua tahun sebelumnya, Arjen Robben dkk juga hanya menjadi penonton di Piala Eropa 2016. Nasib buruk seolah tak henti-hentinya menimpa mereka.

Rasanya sulit membayangkan, bila tim bertaburan pemain bintang seperti Belanda harus absen dalam perhelatan termegah seantero jagat tersebut. Meski, masyarakat dan media massa dalam negeri sudah biasa dan tak terkejut melihat pencapaian tim nasional mereka.

Penyebab kegagalan Belanda ini memang bukan kali pertama terjadi. Pecinta sepakbola tentu masih ingat bagaimana Belanda yang dihuni bintang seperti Johan Cruyff, Jan Jongbloed, Neeskens dan Rop Rensenbrink harus menderita kekalahan dari Jerman Barat di Final Piala Dunia 1974. Dimana Gerd Muller mencetak gol penentu kemenangan. Bahkan mereka (Belanda-red.) harus puas kembali menempati posisi runner-up setelah dipaksa mengakui keunggulan tuan rumah Argentina di Piala Dunia 1978 dengan skor 1-3.

Belanda sempat digadang-gadang akan menjadi tim solid di Piala Dunia 1990 usai mereka menjuarai Piala Eropa 1988. Berkumpulnya para bintang seperti Ruud Gullit, Marco Van Basten, Frank Rijkaard dan Ronald Koeman membuat mereka menjadi negara paling ditakuti. Meski, di kemudian hari Belanda harus kembali takluk 1-2 dari musuh bebuyutan Jerman Barat di perdelapan final Piala Dunia 1990.

Bagaimana dengan era sekarang? Mereka absen pada ajang Piala Dunia 2002, kalah 0-1 dari Spanyol di Final Piala Dunia 2010 dan yang terakhir, urung berangkat ke Rusia di Piala Dunia 2018. Dari sini timbul pertanyaan, apa sebenarnya yang menjadi penyebab kegagalan Belanda meraih mahkota bergengsi Piala Dunia?

Baca juga: Marco Van Basten, Karir Cemerlang Berumur Singkat

Tidak Adanya Regenerasi Pemain
Tim nasional manapun di seluruh dunia menyadari, bahwa regenerasi sangat penting dalam mempertahankan prestasi serta memberi tempat bagi pemain muda untuk ikut andil. Mengandalkan pemain gaek bisa berisiko tinggi. Inilah yang dilakukan oleh timnas Belanda. Mereka nyaris tidak memberi kesempatan kepada pemain muda, sehingga para pemain muda layu sebelum berkembang. Tercatat hanya striker Ryan Babel saja yang mampu menembus tim senior.

Pemain Muda Bertalenta Terlalu Cepat ke Luar Negeri
Setidaknya, seorang pemain sepakbola mempunyai pengalaman yang cukup bersama tim lokal sebelum menyeberang ke negara lain. Misalnya saja Ruud Van Nistelrooy, Edgar Davids dan Dennis Bergkamp, pemain legendaris yang baru ‘terbang’ ketika melewati usia 25 tahun. Contoh pemain muda yang gagal bersinar di luar negeri kincir angin adalah Ibrahim Afellay, bersama Barcelona namanya justru tenggelam.

Merosotnya Kualitas Liga Domestik
Akibat hengkangnya para pemain muda, otomatis para pemain dalam negeri menghadapi masalah baru: Merosotnya kualitas liga. Klub yang lolos ke Liga Champions seperti Ajax Amsterdam, PSV Eindhoven atau Feyenoord Rotterdam sulit mengimbangi tim seperti Real Madrid, Bayern Munchen, Manchester United atau Juventus.

Gaya Bermain yang Sudah Kuno
Pelatih Bert Van Marwijk dan Louis Van Gaal sempat membawa Belanda finish di urutan kedua Piala Dunia 2010 serta empat besar Piala Dunia 2014. Sepeninggal Van Gaal, belum ada satupun pelatih mampu meneruskan materi yang diterapkan. Formasi 3-5-2 milik Van Gaal diubah menjadi 4-3-3. Alhasil, Belanda kehilangan magisnya. Formasi 4-3-3 (total football) temuan Rinus Michels dan Johan Cruyff pada era 70an justru diterapkan lebih baik oleh Spanyol.**GP

SHARE