Cerita Keji di Balik Kopi Luwak, Perbudakan Sadis | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Cerita Keji di Balik Kopi Luwak, Perbudakan Sadis
Gading Perkasa | Story

Barangkali sebagian besar dari Anda bertanya-tanya melihat judul artikel ini, bahwa kopi luwak yang biasa kita konsumsi sehari-hari mempunyai cerita keji di baliknya. Benarkah? Ya. Di dalam nikmatnya secangkir kopi pada pagi hari, ada perbudakan sadis tanpa kita sadari.

Stefan Magdalinski

Hewan mungil itu bergerak penuh kegelisahan di sebuah kandang kayu berukuran kecil. Moncongnya berulang kali mengendus celah-celah. Seolah sedang mencari jalan keluar untuk menyelamatkan diri dari tempat mengerikan tersebut.

Musang kelapa Asia atau lebih dikenal sebagai luwak (Paradoxurus hermaphroditus) merupakan hewan nocturnal. Dimana mereka sudah biasa hidup dalam kegelapan. Maka, ketika dikurung di tempat atau ruangan yang mempunyai penerangan luar biasa seperti sinar matahari hewan ini akan merasakan penderitaan tak terbayangkan.

Tidak hanya itu, sejumlah oknum tak beradab memaksa luwak supaya memakan buah-buah kopi yang masih mentah. Hal ini sangat bertentangan dengan kebiasaan hidup luwak di alam bebas, dimana mereka memilih buah-buahan paling masak sebagai kudapan sehari-hari.

Cerita keji terkait perbudakan hewan terus berlanjut. Anggota musang dari keluarga Viverridae ini ditangkap dari sejumlah daerah di negara-negara benua kuning dan dikurung. Semua itu hanya demi memperoleh biji kopi yang telah dicernanya. Ketika rasa gelisah datang, mereka bisa berkelahi antar sesamanya seperti saling menggerogoti kaki. Bahkan kerap ditemukan darah dalam tinja mereka. Alhasil, banyak luwak sakit dan akhirnya mati lantaran stres.

Tingginya popularitas kopi luwak di masyarakat ditambah dengan keuntungan cukup menggiurkan telah membutakan mata hati manusia, menciptakan industri yang tidak semestinya ada. Luwak kehilangan kebebasannya di alam liar dan harus bertahan hidup dalam kandang sempit di perkebunan kopi.

Anda belum percaya? Tengoklah negeri kita maupun Thailand. Anda dapat memahami sendiri bagaimana berbagai masalah kesehatan serius menimpa para mamalia tersebut. Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Animal Welfare bahkan menganggap produksi kopi luwak sebagai ‘industri perbudakan’.

Para penikmat kopi berpendapat bahwa kopi luwak jauh lebih baik dibandingkan kopi biasa. Pasalnya, kandungan enzim khusus serta proses fermentasinya di saluran pencernaan luwak meningkatkan kualitas rasa. Mungkin bukan masalah besar jika bijinya diperoleh dari luwak yang hidup bebas di alam terbuka. Akan tetapi, kenyataan berkata lain. Ada cerita keji dalam setiap cangkir kopi luwak yang kita teguk pada pagi hari. Masihkah Anda tega meminumnya?**GP

SHARE