Stadion Sepakbola yang Tinggal Kenangan | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
Stadion Sepakbola yang Tinggal Kenangan
Gading Perkasa | Sport & Hobby

Berbicara mengenai nasib stadion yang terbengkalai, rasanya sungguh mengharukan. Tentu tidak semua dari Anda memerhatikan bagaimana sejumlah stadion mulai ditinggalkan sang empunya dan lambat laun berubah menjadi reruntuhan.

Dezidor

Seperti yang telah diketahui, stadion merupakan tempat paling bermakna bagi setiap klub sepakbola. Di seluruh penjuru dunia, stadion bukan sekedar wadah untuk menyelenggarakan pertandingan kandang semata. Melainkan juga menjadi saksi dari berbagai momen bersejarah sepanjang perjalanan klub tersebut.

Kendati demikian, nasib stadion dalam artikel berikut kian memprihatinkan bila boleh dikatakan begitu. Kondisinya seolah tak terawat paska ditinggal klubnya. Padahal, dahulu kala stadion ini merupakan tempat angker bagi tim lawan. Stadion mana sajakah yang dimaksud? Simak penjelasan singkatnya.

Baca juga: Balapan Resmi Tanah Air yang Bisa Anda Coba

Estadio Lluis Sitjar 
Estadio Lluis Sitjar sempat dihuni oleh klub asal Spanyol, Real Mallorca selama lebih dari lima dekade. Sangat disayangkan, nasibnya terabaikan seusai Mallorca meninggalkan stadion pada 1999 silam ke markas barunya yakni Stadion Iberostar. Alhasil, lapangan ditumbuhi rumput liar bahkan kondisi bangunannya kotor dan berdebu.

Za Luzankami Stadium
Za Luzankami Stadium adalah kandang dari FC Zbrojovka Brno, klub asal Rep. Ceko selama 50 tahun. Di suatu masa pada era 1960an, banyak pihak menganggap stadion ini mempunyai kapasitas terbesar bila dibandingkan stadion lain di seluruh penjuru negeri Ceko.

Karena tidak memenuhi standar FIFA, Za Luzankami ditutup pada tahun 2001. Seiring bergulirnya waktu, kondisi stadion pun mulai rusak. Pohon dan semak-semak tumbuh di dalamnya beserta para tunawisma yang menghuni bangku tribun.

Boothferry Park
Boothferry Park dibangun sekitar tahun 1946, dan menjadi salah satu contoh stadion modern. Hull City-lah klub yang sempat menggunakannya sebagai markas. Mempunyai kapasitas tempat duduk sebanyak 55.019 orang, pembukaan stadion diawali oleh pertandingan Piala FA dimana Hull City menjamu Manchester United di musim 1948/1949.

54 tahun kemudian, tepatnya pada tahun 2002 nasib stadion tersebut mulai terbengkalai lantaran tidak lagi digunakan paska Hull pindah ke KC Stadium. Boothferry Park perlahan-lahan usang. Pembongkaran dikerjakan pada 2008, lampu sorot diruntuhkan seluruhnya tiga tahun berselang. Saat ini, lokasinya menjadi daerah pemukiman warga.

Estadio Insular
Setali tiga uang dengan Lluis Sitjar, Estadio Insular dihuni oleh klub liga Spanyol, UD Las Palmas dalam kurun waktu lebih dari 50 tahun. Kapasitasnya sendiri tidak banyak, hanya 21.000 tempat duduk. Namun Insular pernah menjadi saksi kejayaan Las Palmas saat finis di peringkat ketiga La Liga musim 1967/1968 dan berada di peringkat kedua semusim berikutnya. Menginjak tahun 2003, Las Palmas meninggalkan Estadio Insular menuju markas barunya Estadio Gran Canaria.

Central Dynamo Stadium
Stadion terakhir berada di negeri tirai besi, Rusia. Central Dynamo menjadi rumah bagi Dynamo Moskva selama 80 tahun dan dapat menampung 36.450 suporter. Stadion ini juga sebagai salah satu venue dari Olimpiade 1980. Sedangkan bagi Dynamo Moskva, mereka menjuarai 11 gelar liga domestik, tujuh Piala Rusia dan satu Uefa Cup.

Entah mengapa, setelah meninggalkan stadion di tahun 2008, gelar dan piala seolah enggan menghampiri Dynamo Moskva. Central Dynamo Stadium sendiri terbengkalai lantaran usianya yang sudah tua dan buruknya perawatan sehingga dibongkar pada 2011 lalu.**GP

SHARE