Jeanne d'Arc, La Pucelle Korban Konspirasi - Male Indonesia
Jeanne d'Arc, La Pucelle Korban Konspirasi
MALE ID | Story

Sosok Jeanne d’Arc dikenal sebagai salah satu pahlawan Perancis yang melegenda. Namanya sangat penting dalam sejarah dunia barat. Beberapa penulis dan komponis seperti Shakespeare, Schiller, Verdi dan Tchaikovsky telah menghasilkan berbagai karya yang menjelaskan mengenai sosok Jeanne d’Arc.

Male Indonesia

Ia lahir di Lorraine, Perancis, 6 Januari 1412. Merupakan pasangan dari Jacques d’Arc dan Isabelle Romée, keluarga petani. Jacques, sang ayah menduduki jabatan kecil di pemerintah setempat sekaligus menjadi kepala keamanan kota. Keluarga mereka tinggal pada suatu daerah terisolasi di wilayah timur laut Perancis yang dikuasai oleh Inggris dan Burgundi. Desa kecil mereka terbakar hebat akibat ulah pasukan Inggris.

Di tahun 1424, ia mendapat suatu pencerahan yang dipercayai berasal dari sang pencipta. Semangatnya membangkitkan pasukan Charles VII dan berusaha merebut kembali desa beserta wilayah mereka dari tangan penjajah. Sejak saat itulah pahlawan Perancis wanita ini dijuluki sebagai La Pucelle, yang artinya sang perawan.

Ketika umurnya menginjak enam belas tahun, Jeanne meminta Durand Lassois untuk mengantarkan dirinya ke Vaucouleurs. Setibanya di sana, ia memohon pada Count Robert de Baudricourt, seorang komandan setempat agar diizinkan mengunjungi Balairung Agung Perancis di Chinon. Permohonannya berjuang demi negara tak dikabulkan oleh Baudricourt dan Jeanne tertunduk lesu.

Namun Jeanne bukan orang yang gampang menyerah begitu saja. Berkat dukungan dua tokoh yang cukup berpengaruh, Jean de Metz dan Bertrand de Poulegny, ia berhasil memperoleh lampu hijau dari Baudricourt hingga akhirnya mereka bertiga bertolak ke Balairung Agung pada tahun 1429.

Ia ditugaskan oleh raja Charles VII menyerbu kota Orléans sebagai upaya pembebasan kota tersebut. Namanya mulai dikenal luas atas keberhasilannya mengakhiri pengepungan dalam tempo singkat, sembilan hari. Sementara kemenangan lain yang ia (Jeanne-red.) raih turut berkontribusi pada pengukuhan tahta Charles VII di Reims.

La Pucelle dan para pasukan Charles VII mencoba menjalani operasi militer lanjutan, namun operasi itu kurang berhasil. Disinilah keberanian Jeanne semakin terlihat, dimana dirinya menolak mundur saat ia mendapat luka serius sewaktu mencoba mengambil alih kota Paris dari tangan Inggris.

Singkat cerita, ia bersama pasukannya kalah pada pertempuran di Compeigne tahun 1429. Kekalahannya kental dengan nuansa politis. Jeanne pun segera ditangkap. Di pengadilan yang notabene dikuasai Inggris, sang hakim mendakwanya atas perbuatan ajaran sesat. Hal itu berujung pada hukuman mati yang dinilai sadis oleh masyarakat, karena caranya dibakar hidup-hidup

Pahlawan Perancis wanita yang dikenal akan keberaniannya ini meninggal dalam sebuah eksekusi di kota Rouen, Normandia pada 30 Mei 1431 di usia 19 tahun. Ia diikat pada tiang yang tinggi, kemudian dibakar. Setelah kematiannya dipastikan oleh orang-orang Inggris, mereka membuang abu jasadnya ke sungai Seine.

Dua puluh empat tahun berselang, tepatnya di tahun 1455 pengadilan Perancis beserta Paus Kallixtus III kembali membuka kasus Jeanne d’Arc. Setelah melalui beberapa proses, hakim menggugurkan dakwaan yang ditujukan kepadanya. Sosoknya sebagai pahlawan Perancis wanita yang pemberani selalu dikenang oleh masyarakat negeri ini dan menginspirasi dunia.**GP

SHARE