"Posesif", Sisi Gelap Romansa Masa Muda | Male Indonesia - Men in Life Men in Style
"Posesif", Sisi Gelap Romansa Masa Muda
Sopan Sopian | Review

Film Posesif disebut-sebut sebagai film berlatar kehidupan remaja Indonesia pertama dengan genre romantic-suspense. Karena, film yang akan rilis pada 26 Oktober 2017 ini mengangkat sisi kelam sebuah hubungan remaja yang luput dari pembahasan sineas. Tidak lagi berbicara sulitnya menjalin hubungan antara pria dan wanita saat duduk di bangku sekolah.

AP2A5015 (800 x 533)

Film posesif yang mengisahkan Lala (Putri Marino) dan Yudhis (Adipati Dolken) justru memiliki jalan pendekatakan yang singat, mulai dari bertemu, memiliki rasa nyaman, hingga mengutarakan perasaan mereka berdua.

Lala adalah seorang atlet loncat indah yang masih duduk di bangku Sekolah Menangah Atas (SMA). Di sekolah, Lala bersahabat dengan Ega (Gritte Agatha) dan Gino (Chicco Kurniawan). Namun karena kesibukannya sebagai atlet Lala jarang menghabiskan waktu bersama mereka.

Usai kompetisi, Lala akhirnya kembali ke sekolah. Di sinilah pertemuan kali pertama bertemu dengan Yudhis. Murid baru yang terkenal dengan ketampanananya. Setelah keduanya bertemu, dengan alur yang begitu mudah, Yudhis dan Lala akhirnya menjalin sebuah hubungan (pacaran-read).

Dibalik Keromantisan Hubungan Remaja

Pada awal-awal mereka jadian, keduanya terlihat romantis, Yudhis kerap mengantar jemput dan menemani Lala berlatih sebagai atlet. Namun, lambat laun, Yudhis memperlihatkan sifat posesifnya yang berlebihan. Yudhis selalu ingin bersama Lala, selalu ingin tahu aktivitas Lala setiap menitnya.

Dengan segala cara yang dilakukan Yudhis, akhirnya Lala berhasil ditarik keluar dari rutinitasnya dan menjadikan hubungan sebagai prioritas mereka berdua. Sikap posesif Yudhis yang berlebihan, memaksa Lala untuk mengikuti segala kehendaknya. Mulai dari melarang Lala untuk bermain dengan sahabatnya hingga ketidaksukaan Yudhis saat Lala diantar orang lain.

AP2A4091 (800 x 533)

Konflik semakin memanas, semakin tingkat posesif Yudhis meningkat, sisi psikopat Yudhis pun keluar. Lala kerap mendapatkan perlakuan kekerasan dari Yudhis. Sehingga Lala pun merasa tidak nyaman dan berkali-kali memutuskan hubungan. Namun Yudhis yang memiliki seribu cara akhirnya berhasil meluluhkan hati Lala kembali berkali-kali.

Namun, dibalik sisi psikopat Yuhdis, ternyata memiliki alasan di belakang itu. Sifat obsessive-nya ternyata terpengaruh oleh ibunya (Cut Mini) yang merupakan single parent. Rasa sakit hati karena ditinggalkan suaminya, kerap dilampiaskan ke Yudhis. Ibunya selalu memaksakan kehendaknya terhadap Yuhdis. bahkan ia tak segan melakukan kekerasan fisik kepada anak semata wayangnya itu.

Di depan sang ibu, Yudhis sangat inferior, tidak berani membantah dan tak berdaya. Sebaliknya, ibunya tidak menerima penolakan dalam bentuk apapun sehingga akan melakukan segala cara agar Yudhis menuruti perintahnya, sama seperti Yudhis yang selalu berhasil memaksakan keinginannya pada Lala, bagaimana pun caranya.

Penonton Masuk dalam Cerita

Film posesif tidak berlebihan jika dikatakan dapat mengaduk-ngaduk emosi penonton. Seolah terbius masuk dalam cerita Yudhis yang psikopat karena posesifnya dan Lala yang mudah luluh meski kerap disakiti secara fisik. Sampai-sampai penonton lupa bahwa mereka sedang menonton film romansa.

Bisa dikatakan, penggambaran itu tidak sia-sia dilakukan oleh tim baik penulis, sutradara, maupun produser yang melakukan riset lama sebelum proses syuting dimulai. "Film posesif ini memprioritaskan perasaan, dan itu adalah tantangannya sehingga menjadi film remaja yang berbeda," tutur Muhammad Zaidy, produser Posesif.

Selain itu, tokoh Ibu yang diperankan Cut Mini memerlihatkan peran orang tua sangat besar pada perkembangan anak, khususnya di usia remaja. Posesif juga mengingatkan pentingnya peran orang tua untuk bersedia mendengarkan anaknya. Meskipun permasalahan yang ada seolah-olah hanya sepele, namun bisa jadi sangat besar bagi mereka.

"Kalau melihat konfliknya, saat dijamannya itu pelik banget, kalau seumuran kita yang sudah diatas 25 tahun pasti cupu melihatnya," tutur Meiska Taurisia yang juga sebagai produser Posesif.

Kolaborasi para produser, sutradara, dan penulis skenario dalam film ini patut diacungi jempol. Tidak salah jika film posesif masuk nominasi Festvial Film Indonesia (FFI) 2017 dan mendapatkan 10 Nominasi Piala Citra. **

SHARE