No Time to Die, Membuka Luka Lama yang Kelam - Male Indonesia
REVIEW FILM
No Time to Die, Membuka Luka Lama yang Kelam
MALE ID | Review

Setidaknya sudah lebih dari setahun lebih pencinta aksi agen rahasia 007 harus menunggu lama agar bisa melihat sosok aktor Daniel Craig kembali memerankan perannya sebagai James Bond di film No Time To Die.

Male Indonesia

Seperti sudah diketahui secara umum, No Time to Die merupakan momen penting bagi karier dari Craig yang menjadikan film tersebut sebagai yang terakhir baginya menjadi seorang James Bond. Tentu hal ini semakin menjadikan film No Time to Die begitu istimewa dan layak untuk masuk list Anda sebagai film yang wajib ditonton.

No Time To Die disutradarai oleh Cary Joji Fukunaga yang membawa kembali beberapa tokoh pendudung dari film sebelumnya sekaligus memperkenalkan sosok baru, yaitu salah satunya adalah peraih piala Oscar, Rami Malek.

Berbeda dengan film-film ia sebelumnya,Malek kini didapuk sebagai tokoh antagonis yang tampil dengan permasalahan unik dan berbeda. Menjadikan tokoh penjahat yang memiliki persepsinya sendiri akan sebuah kebenaran dilakukannya sebagai tokoh bernama Safin.

Male Indonesia

Sinopsis

Mengisahkan sebuah lembar baru dari James Bond di masa pensiunnya bersama kekasihnya, Léa Seydoux sebagai Madeleine Swann. Menghabiskan setiap momen bersama dengan begitu romantis seakan inilah akhir dari perjalanan Bond yang sebelumnya penuh dengan intrik dan masalah.

Akan tetapi, saat ia berusaha untuk menutup pintu masa lalu. Permasalahan kembali datang, seakan menarik Bond untuk menjadi sosok yang coba ia tinggalkan.

Perasaan tidak tenang dan penuh curiga kembali ia rasakan, termasuk hilangnya rasa percaya Bond terhadap Madeleine Swann yang dianggapnya masih menyimpan rahasia yang belum diceritakan. Hingga ia memutuskan menyudahi mimpi indahnya dan kembali ke kehidupan lamanya, untuk mencari tahu siapa dalang yang mencoba membunuh dan mengganggu hidupnya.

Di sisi lain, Anda juga diperlihatkan pemandangan dari sudut pandang Safin, karakter idealis yang melakukan tindakan kejam yang bisa berdampak pada kehancuran dunia.

Rencana besar yang dilakukannya didasari peran masa lalu kelam yang membuatnya harus membuat keputusan besar terhadap kemanusiaan tanpa peduli apakah hal tersebut bisa memakan banyak korban.

Tidak main-main,  Safin memanfaatkan senjata pemusnah masal milik pemerintah yang seharusnya digunakan untuk keamanan menjadi ancaman mengerikan.

Permasalahan menjadi tambah pelik disaat apa yang dilakukan oleh Safin, ternyata memiliki kaitan dengan masa lalu Bond bersama Swann yang menjadikan konflik Bond dan Safin berubah menjadi masalah pribadi.

Male IndonesiaBond yang Lebih Humanis

Jika di film sebelumnya Bond diperlihatkan sebagai sosok flamboyan yang keras. No Time To Die justru memberikan porsi yang lebih banyak untuk sisi humanisnya.

Balutan aksi dan juga intrik memang tetap menjadi bumbu utama.Tapi Anda juga akan melihat Bond yang sakit hati, sedih, dan juga bahagia dalam beberapa adegan untuk mempertegas bahwa ia hanyalah manusia biasa yang mengharapkan kehidupan bahagia.

Intinya secara keseluruhan film No Time To Die merupakan karya penutup Daniel Craig yang bittersweet yang wajib Anda saksikan, khususnya untuk Anda yang sudah menyaksikan sepak terjang tokoh James Bond di tangan aktor Daniel Craig.

 

SHARE