Dibintangi Artis Terkenal, Tak Jamin Film Sukses - Male Indonesia
Dibintangi Artis Terkenal, Tak Jamin Film Sukses
MALE ID | News

Sejatinya saat sebuah film dibintangi artis papan atas, akan berbanding lurus dengan kesuksesannya. Namun nyatanya hal itu tidak seperti itu. Hal ini diungkap Produser Max Pictures Ody Mulya Hidayat dalam webinar Festival Film Wartawan Indonesia (FFWI) 2021.

Photo by Jakob Owens on Unsplash

Ody Mulya Hidayat mengatakan keterlibatan artis papan atas hanyalah salah satu faktor pendukung keberhasilan sebuah film di bioskop maupun over the top (OTT), namun tak bisa dijadikan jaminan mutlak. 

"Saya setuju pemain bisa membawa kesuksesan, tapi tidak mutlak. Saya review beberapa film yang dibintangi aktor-aktor top yang sudah punya nama di layar lebar, tapi hasilnya ternyata tidak memuaskan," kata Ody.

Ada fenomena unik, kata Ody, apa yang terjadi di tengah penonton film Indonesia saat ini. Rupanya, tak harus selalu pemain utama yang dijadikan magnet untuk menarik penonton film terutama dari kalangan usia muda. Saat ini, tambah Ody, para penonton sangat menyukai sosok-sosok baru dalam memerankan tokoh tertentu dalam sebuah film dan tidak harus tokoh utama.

"Saya melihat sosial media bisa menjadi pertimbangan. Tidak harus bintang top pun bisa menjadi daya tarik untuk penonton OTT terutama," kata produser yang membuat film Dilan dan Milea itu.

"Saya menelisiknya dari sana. Melihat siapa yang disukai penonton. Menariknya, penonton juga tak jarang memberi rekomendasi melalui media sosial tentang siapa yang mereka inginkan untuk memerankan tokoh tertentu," lanjutnya.

Ody kemudian mengatakan, fenomena tersebut dapat menjadi lokomotif untuk menarik pemain-pemain baru yang bertalenta. Dia tak memungkiri bahwa saat ini, perfilman di Indonesia selalu diisi dengan wajah yang sama.

"Mudah-mudahan jadi satu pemicu juga untuk mencari pemain-pemain muda yang berbakat, karena sekarang kan pemain film itu-itu aja," katanya.

Untuk kesuksesan film itu sendiri, Anggy Umbara mengungkapkan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, Pertama, film sebagai IP, intelektual property itu harus kuat. Kedua ceritanya menarik dan menyasar penonton. Ketiga, production value yang totalitas dan konsisten. 

"Untuk pemain, harus dipertimbangkan bisa nggak menarik penonton untuk ke bioskop. Terakhir promosi harus jitu, membangun ketertarikan penonton akan sebuah judul film itu penting," paparnya.

Penonton muda, lanjutnya, adalah mayoritas penonton di Indonesia. "Sebelum pandemi, film Indonesia sedang di puncaknya. Kita bisa lihat penonton muda mendominasi di usia 13-18 tahun. Kita harus mengikuti cerita yang menarik mereka. Mudahnya ya, cerita cinta itu bisa diterima di semua usia," ungkapnya.

SHARE