Bukti Kekejaman Nazi di Lembah Kematian Polandia - Male Indonesia
Bukti Kekejaman Nazi di Lembah Kematian Polandia
MALE ID | Story

Para arkeolog di Polandia baru-baru ini menemukan kuburan massal kekejaman Nazi di Polandia selama tahap awal dan akhir Perang Dunia II (PD II), termasuk bagaimana Nazi mencoba menghancurkan bukti kejahatan mereka.

Male IndonesiaPhoto: Pixabay.com

Nazi Jerman menginvasi Polandia pada 1 September 1939 yang memicu PD II. Bulan-bulan awal konflik sangat brutal, terutama di wilayah Pomeranian di Polandia utara, di mana diperkirakan 30.000 hingga 35.000 warga Polandia dibantai.

Kekejaman berskala besar ini menjadi yang pertama dari banyak kejadian selama perang di Polandia. Pembunuhan mengerikan ini, yang dikenal sebagai “Pomeranian Crime” tahun 1939, dianggap sebagai pertanda genosida Nazi di kemudian hari yang dilakukan dalam PD II.

Kejahatan Pomeranian 1939 adalah kekejaman berskala besar pertama selama PD II di Polandia. Ini termasuk 12.000 orang yang terbunuh di hutan di sekitar desa Piasnica dan 7.000 orang yang dikuburkan di hutan dekat desa Szpegawsk pada tahun 1939. Beberapa sejarawan mengatakan pembantaian itu merupakan awal dari kekejaman Nazi yang dilakukan selama Holocaust.

Beberapa dari pembunuhan ini dilakukan sebagai bagian dari Intelligenzaktion, di mana anggota masyarakat Polandia yang terkemuka dan berpendidikan tinggi, seperti guru, imam, dokter, aktivis, pekerja kantor, dan mantan pejabat, dieksekusi.

Pembunuhan itu terjadi di sekitar 400 lokasi berbeda di Pomerania, termasuk sebuah situs di pinggiran kota Chojnice, Polandia. Pembantaian lain terhadap sekitar 600 warga Polandia yang dipenjara terjadi juga di lokasi ini pada akhir Januari 1945, saat akan mundurnya Jerman di sepanjang Front Timur.

Ratusan orang Polandia dieksekusi, dan tubuh mereka dibakar untuk menghancurkan barang bukti, menurut keterangan saksi mata. Situs dekat Chojnice itu kemudian dinamai Death Valley (Lembah Kematian) karena pembunuhan yang terjadi selama perang.

Melansir Gizmodo, peneliti studi, Dawid Kobia?ka, seorang arkeolog dan antropolog budaya di Polish Academy of Sciences di Polandia mengatakan, setelah perang, pada tahun 1945, penggalian di kawasan Death Valley itu menemukan sisa-sisa mayat 168 orang. Tetapi dari laporan penggalian dan kesaksian saksi bahwa ada lebih banyak kuburan yang ditemukan.

"D iketahui bahwa tidak semua kuburan massal dari tahun 1939 ditemukan dan digali, dan kuburan mereka yang terbunuh pada tahun 1945 juga tidak digali," kata Kobia?ka.

Tim arkeolog menemukan serangkaian parit yang digali oleh tentara Polandia pada minggu-minggu menjelang perang. Namun ironis, Nazi kemudian menggunakan parit-parit ini untuk mengubur korban pembunuhan mereka.

Peneliti juga menemukan bukti tulang belulang korban pembantaian 1945 yang dikremasi. Beberapa abu mayat tersebut ditemukan berserakan di permukaan tanah. Bukti arsip mengungkapkan daftar calon korban sebagian besar terdiri dari anggota gerakan perlawanan Polandia.

Korban dibunuh dan dibakar dalam formasi tumpukan. Fragmen kayu yang diawetkan mengonfirmasi keakuratan kesaksian saksi bahwa mayat dan tumpukan tersebut disiram dengan zat yang mudah terbakar, kemudian dibakar.

Selain itu, adanya barang berharga milik korban menunjukkan bahwa jenazah tidak dirampok. Ini dengan ditemukannya sebanyak 349 artefak. Beberapa artefak itu milik para korban, termasuk cincin kawin emas seorang wanita. Hebatnya, para peneliti dapat mencocokkan cincin ini dengan Irena Szyd?owska, seorang kurir tentara Angkatan Darat Polandia.

Tim arkeolog berencana melakukan analisis DNA dengan harapan dapat mengidentifikasi lebih banyak korban. Kemudian korban akan dikubur kembali, dan Death Valley akan dibuat menjadi pemakaman perang resmi.

SHARE