Cara Mendeteksi Omong Kosong di Tempat Kerja - Male Indonesia
Cara Mendeteksi Omong Kosong di Tempat Kerja
MALE ID | Works

Sebagian besar dari kita mungkin pernah mengalami atau saat ini sedang bekerja di sebuah perusahaan yang “penuh dengan omong kosong”. Bagi mereka yang bekerja di lingkungan ini selama bertahun-tahun, kemampuan untuk mendeteksi omong kosong itu hampir seperti indra keenam, karena melacak omong kosong di kantor lebih merupakan seni daripada sains.

Male IndonesiaPhoto:pexels.com

Namun berkat penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Psychological Reports, ada skala yang dapat mendeteksi dan mengukur omong kosong yang diproduksi di kantor. Mungkin ini bisa membantu Anda untuk mengevaluasi dan menghadapinya, sehingga Anda lebih siap untuk memutuskan apakah tetap berkarier di kantor itu atau meninggalkannya.

Penelitian mengukur omong kosong kantor ini mendefinisikannya sebagai “individu dalam sebuah organisasi yang membuat pernyataan tanpa memerhatikan kebenaran”. Tepatnya disebut skala persepsi omong kosong organisasi.

Melansir Life Hacker, penulis studi, Caitlin Ferreira, dosen pemasaran di Universitas Teknologi Lulea, Swedia, mengidentifikasi tiga faktor utama yang mendasari omong kosong di tempat kerja yaitu “menghormati kebenaran”, “bos”, dan “bahasa yang tidak berarti”.

Faktor pertama, menghormati kebenaran, adalah berbicara sejauh mana budaya perusahaan menempatkan pentingnya bukti dan fakta dalam pengambilan keputusan. Ini tentang kesediaan manajemen untuk menoleransi komunikasi yang menunjukkan pengabaian fakta.

Faktor kedua, bos, adalah kesediaan atasan untuk menoleransi omong kosong tersebut. Ini tentang pelestarian omong kosong tempat kerja oleh struktur hierarkis dalam suatu organisasi, yang menunjukkan bahwa atasan mungkin pemeran kunci utama dalam penyebaran omong kosong.

Kemudian faktor ketiga, bahasa yang tidak berarti, adalah menyoroti beberapa bahasa yang lazim digunakan oleh mereka yang melestarikan omong kosong di tempat kerja. Biasanya berupa bahasa eksklusif, seperti akronim dan jargon, yang sering menyebabkan individu meragukan pemahaman mereka sendiri dan sebaliknya mencegah orang lain berkontribusi secara berarti atau menyuarakan keprihatinan mereka terhadap situasi kantor.

Untuk menguji skala persepsi omong kosong organisasi, penulis menggunakan faktor-faktor untuk mengukur ketiga kategori itu, kemudian mengujinya pada dua sampel terpisah dari karyawan, yang diambil dari berbagai industri. Meskipun masih dalam tahap awal, skala ini menunjukkan tidak hanya untuk mengukur omong kosong, tetapi juga kemampuan karyawan untuk mengenali situasi yang terjadi di kantornya secara apa adanya.

Misalnya, dalam pekerjaan terakhir Anda, ada pertanyaan tentang apa yang sebenarnya dilakukan kepala departemen Anda, karena tidak ada seorang pun di departemen Anda yang dapat menyebutkan apa yang dia lakukan. Anda dan semua rekan Anda tahu bahwa dia bertanggung jawab untuk beberapa tugas bulanannya, tetapi setiap hari tidak ada yang tahu apa yang kerjakannya.

Kemudian dalam suatu rapat kantor, kepala departemen Anda itu menggunakan kesempatan ini untuk menjawab pertanyaan tersebut. Tanggapannya yang omong kosong adalah jika ada yang ingin tahu apa yang dia kerjakan, karyawan bisa datang langsung bertanya padanya.

Selanjutnya Anda akan terjebak dalam rapat yang tanpa akhir, dan mendengarkan beberapa rekan kerja Anda mengucapkan kata-kata yang tidak berarti. Sementara bos dan kepala departemen Anda hanya mengangguk setuju. Yakinlah, yang terjadi ini tidak lain hanya omong kosong.

Namun jika Anda tidak mampu mengenali omong kosong perusahaan, dengan cara memahami kerangka kerja akan bisa membantu Anda lebih mengenali jenis situasi yang Anda hadapi dan Anda bisa memprediksi apakah budaya di tempat Anda bekerja itu dapat diselamatkan atau tidak.

SHARE