“Kota Tenggelam Dalam Darah” Akibat Serbuan Mongol - Male Indonesia
“Kota Tenggelam Dalam Darah” Akibat Serbuan Mongol
MALE ID | Story

Ketika bangsa Mongol menyerbu Yaroslavl, kota di sebelah utara Rusia, pada tahun 1238, hampir tidak ada orang yang selamat. Ratusan orang dibantai secara brutal dan dibuang ke kuburan massal saat kota itu diporak-porandakan dan dijarah. Kuburan itu tidak diberi penanda untuk membedakan siapa korban malang tersebut.

Male IndonesiaPhoto:Pexels.com

Hampir 800 tahun kemudian, para peneliti memberi gambaran mengerikan tentang para korban pembataian itu. Salah satu lubang kematian tersebut secara khusus diteliti para ilmuwan dari Institut Fisika dan Teknologi Moskow. Mereka menganalisis secara genetik 3 mayat yang merupakan warga kota Yaroslavl. Ketiga mayat yang terbunuh dan dikubur bersama itu adalah seorang wanita, putrinya, dan cucunya.

Tim peneliti Moskow, dilansir dari Live Science, menemukan bahwa yang tertua dari 3 mayat itu setidaknya berusia 55 tahun sebelum meninggal. Putrinya berusia antara 30-40 tahun, sedangkan cucunya lebih muda dari 20 tahun. Mereka dimakamkan di salah satu dari sembilan lubang yang ditemukan di Yaroslavl. Hampir 300 mayat terkubur di sembilan lubang tersebut.

Hubungan biologis antara ketiga mayat yang ditemukan itu menjadi jelas setelah para peneliti memperhatikan fitur serupa pada tengkoraknya. Ketiga anggota keluarga itu juga menunjukkan gejala spina bifida (kelainan pada rangka sumsum belakang) yang bersifat turun temurun.

Orang-orang Mongol yang dipimpin oleh cucu Jenghis Khan, yakni Batu Khan, meluluhlantakan kota Yaroslavl tidak lama setelah maju ke Rusia. Meski demikian, masih ada beberapa bangunan dan artefak yang bertahan tidak dihancurkan.

Pemandangan di Yaroslavl menunjukkan betapa brutalnya penyerbuan Batu Khan masa itu. Dalam waktu 5 tahun, dia memusnahkan tujuh persen populasi Rusia. Pangeran Agung Rusia yang menolak tunduk kepada orang-orang Mongol, membuat Batu Khan membakar rata ibu kota, korbannya termasuk keluarga kerajaan dan setiap penduduk di dalamnya.

Wakil direktur Institut Arkeologi di Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia dan kepala penggalian Yaroslavl, Asya Engovatova mengatakan, bukti yang ditemukan di sana menjelaskan kisah penaklukan tersebut dan menjadi pengetahuan umum masyarakat Rusia.

“Penaklukan Batu Khan adalah tragedi nasional terbesar, melebihi peristiwa lain dalam kekejaman dan kehancuran. Bukan kebetulan bahwa ini adalah salah satu dari sedikit peristiwa seperti itu yang masuk ke dalam cerita rakyat Rusia,” jelas Engovatova.

Kekejaman atas penaklukan Yaroslavl yang tak terlupakan bagi banyak orang Rusia itu jelas terlihat dari bentuk tubuh para korban diperlakukan setelah kematian. Tengkorak dan tulang para korban semuanya menunjukkan tanda-tanda kekerasan. Mereka tertusuk, patah, terbakar, atau kombinasi dari ketiganya.

Analisis sebelumnya menunjukkan bahwa tiga anggota keluarga, misalnya, dikuburkan pada Februari 1238. Tetapi bukti terbaru dalam bentuk belatung yang diawetkan di jenazah mereka menunjukkan bahwa mayat-mayat itu mungkin membusuk di udara terbuka selama berbulan-bulan sebelum dikubur.

“Orang-orang ini terbunuh, dan tubuh mereka tetap terbaring di salju untuk waktu yang cukup lama. Pada bulan April atau Mei, lalat mulai berkembang biak di sisa-sisa jasad, dan pada akhir Mei atau awal Juni, mereka dikubur di sebuah lubang di pekarangan, di mana mereka mungkin pernah tinggal,” papar Engovatova.

Engovatova menggambarkan Yaroslavl setelah serangan itu sebagai “kota yang tenggelam dalam darah”. Kerangka para korban yang mengalami kekerasan, termasuk bukti tulang-tulang yang tertusuk, patah, dan terbakar di antara ratusan mayat yang terkubur di sana, menunjukkan bahwa peristiwa itu benar.

SHARE