Pemilik Kucing Bisa Meningkatkan Gaya Seksual BDSM - Male Indonesia
Pemilik Kucing Bisa Meningkatkan Gaya Seksual BDSM
MALE ID | Sex & Health

Hidup dengan kucing bisa membuat keterlibatan dalam Bondage and Discipline, Sadism and Masochism (BDSM) lebih menarik. Hal tersebut terungkap dalam penelitian The studi diterbitkan pada Juli-September 2016 di jurnal Evolutionary Psychology yang melibatkan 36.564 orang Eropa.

Photo by Artem Labunsky on Unsplash

Kata para peneliti, bukan kucing itu sendiri yang memicu hasrat untuk pengalaman seksual nontradisional, tetapi parasit kecil yang disebut toksoplasma, yang dapat ditularkan ke manusia melalui kotoran kucing, yang sering terpapar oleh pemilik hewan peliharaan melalui kotak kotoran. 

Hal tersebut juga dapat ditularkan melalui daging mentah yang terinfeksi, air minum yang tercemar, atau makan buah atau sayuran yang terkena air yang terinfeksi.

Seperti dikutip dari Everydayhealth, toksoplasma menyebabkan infeksi yang dikenal sebagai toksoplasmosis. Itu umum, lebih dari 40 juta orang di Amerika Serikat saat ini mungkin terinfeksi, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) dan umumnya dianggap tidak berbahaya bagi manusia kecuali bagi mereka yang mengalami gangguan kekebalan. 

Namun, menurut Jaroslav Flegr, PhD, ahli parasitologi dan ahli biologi evolusi di Universitas Charles di Praha, dan Radim Kuba, seorang peneliti di Universitas Charles, toksoplasma meningkatkan kadar dopamin otak, neurotransmitter yang dikenal untuk memungkinkan komunikasi antara neuron dan keinginan untuk mengonsumsi bahan bakar. 

Para peneliti berspekulasi bahwa parasit ini, seperti yang lain, mampu mengubah perilaku. Asumsi mereka didasarkan pada fakta bahwa tikus yang terinfeksi berubah dari takut akan bau kucing menjadi tertarik pada aromanya.

Para peneliti juga berspekulasi bahwa orang yang terinfeksi parasit mungkin juga terpengaruh. Dalam studi tersebut, para peneliti mengamati 36.564 orang, beberapa di antaranya terinfeksi toksoplasma, dan beberapa di antaranya tidak. 

Mereka menemukan bahwa subjek yang terinfeksi, memang, lebih mungkin terangsang "oleh ketakutan, bahaya, dan kepatuhan seksual mereka sendiri" daripada subjek yang tidak terinfeksi.

Para peneliti menekankan bahwa sementara infeksi toksoplasma menjelaskan hanya sebagian kecil dari variabilitas dalam sifat-sifat yang terkait dengan BDSM, itu menyoroti betapa sensitif dan kompleksnya jaringan faktor dalam membentuk perilaku, keinginan, dan preferensi seksual seseorang. 

SHARE