Memprediksi Sosioseksualitas dari Struktur Wajah - Male Indonesia
Memprediksi Sosioseksualitas dari Struktur Wajah
MALE ID | Sex & Health

Sebuah penelitian menyoroti fenomena provokatif tentang penafsiran struktur wajah maskulin dan feminin untuk menyimpulkan sosioseksualitas pria dan wanita.

Male IndonesiaPhoto:Pexels.com

Kadar testosteron yang tinggi pada pria memprediksi fitur wajah yang lebih maskulin dan sosioseksualitas yang tidak terbatas (penerimaan seks kasual yang lebih tinggi). Sementara pada tingkat yang lebih rendah, wajah yang lebih feminin dan menarik memprediksi sosioseksualitas yang tidak terbatas pada wanita.

Studi baru yang diterbitkan dalam Evolution and Human Behavior menegaskan bahwa hal itu agak mungkin, terutama ketika menilai pria. Dilansir dari Psychology Today, untuk menguji hipotesis itu, para peneliti meminta 103 peserta untuk menggambarkan “sosioseksualitas” mereka sendiri, yang merupakan ukuran bagaimana seseorang menerima seks bebas jangka pendek. Selanjutnya, mereka merekrut 65 peserta lain yang diminta menebak sosioseksualitas masing-masing orang di kelompok pertama hanya dengan melihat foto wajah mereka.

Penelitian itu mendapatkan dua temuan penting. Pertama, di antara pria, sosioseksualitas yang dilaporkan sendiri berkorelasi pada pemilik fitur wajah yang lebih maskulin. Kedua, peserta perempuan sangat pandai menebak sosioseksualitas masing-masing subjek laki-laki hanya dengan melihat foto mereka.

Saat wanita diperlihatkan gambar wajah pria, wanita cenderung menilai wajah pria yang memiliki kadar testosteron lebih tinggi sebagai lebih maskulin tetapi belum tentu lebih menarik. Ketika pria diperlihatkan gambar wanita, mereka cenderung menilai mereka yang memiliki wajah paling feminin dan tampak simetris adalah yang paling menarik.

Mengingat bahwa testosteron mempengaruhi fitur wajah dan sosioseksualitas pada pria, maka masuk akal jika fitur wajah pria akan memberikan petunjuk yang terlihat tentang sosioseksualitasnya.

Memahami Sosioseksualitas

Selama beberapa dekade, para peneliti telah mempelajari variasi individu dalam sosioseksualitas. Seseorang yang memiliki “sosioseksualitas tidak terbatas” mempunyai sikap lebih positif terhadap seks bebas dan lebih mungkin untuk terlibat dalam hubungan seks daripada orang yang memiliki “sosioseksualitas terbatas”. Seseorang yang memiliki seksualitas terbatas biasanya hanya tertarik untuk mencari hubungan jangka panjang.

Sosioseksualitas seseorang sebagian besar dipengaruhi oleh faktor sosial. Individu yang tumbuh dalam keluarga dan komunitas yang lebih konservatif secara sosial cenderung memiliki sosioseksualitas yang lebih terbatas, yang berarti mereka biasanya kurang menerima hubungan seks kasual dan lebih berorientasi pada hubungan jangka panjang daripada mereka yang dibesarkan di lingkungan yang kurang konservatif.

Namun, sosioseksualitas seseorang dapat berkembang. Ini sering terjadi pada orang dewasa muda ketika mereka masuk ke perguruan tinggi atau mulai hidup mandiri dari orang tua mereka.

Di luar budaya, penelitian juga secara konsisten menunjukkan bahwa sosioseksualitas berakar pada biologi. Laki-laki yang memiliki kadar testosteron lebih tinggi cenderung memiliki sosioseksualitas yang kurang terbatas. Mereka cenderung memiliki wajah lebih lebar, lebih banyak ruang di antara mata mereka, hidung yang lebih lebar, bibir yang lebih tipis, dan garis rahang yang lebih kuat dan lebih besar daripada pria dengan lebih sedikit testosteron.

Pada tingkat yang jauh lebih rendah, wanita yang memiliki tingkat estrogen yang lebih tinggi juga memiliki sosioseksualitas yang tidak terbatas. Estrogen cenderung membuat wajah lebih halus dan lembut dengan pipi lebih bulat.

Testosteron dan estrogen menghasilkan efek kuat dan terlihat pada tubuh. Selain mendorong perkembangan karakteristik seks sekunder selama masa pubertas, kedua hormon tersebut juga menentukan karakteristik wajah tertentu.

SHARE