Lakukan Ini Untuk Menjadi Pendengar yang Baik - Male Indonesia
Lakukan Ini Untuk Menjadi Pendengar yang Baik
MALE ID | Relationships

Menjadi pendengar yang baik akan berdampak positif  pada semua hubungan Anda. Sikap positif sebagai pendengar berdampak pada keefektifan mendengarkan. Kepositifan tersebut dapat menyebabkan pengaturan emosi bersama. Bayangkan, betapa memuaskan, bahkan melegakan, ketika seseorang benar-benar didengar dan dipahami oleh orang lain.

Male IndonesiaPhoto:Pexels.com

Untuk menjadi pendengar yang hebat di saat orang berbicara, Anda perlu melibatkan praktik pola pikir dan perilaku. Seringkali praktik ini berdampak pada orang yang berbicara, serta orang yang mendengarkan, yang mengarah pada kedalaman hubungan.

Jika Anda ingin menjadi pendengar yang baik, lakukan beberapa hal berikut ini, dilansir dari Psychology Today.

Pertama, memiliki sikap yang luar biasa dalam mendengarkan. Penelitian menunjukkan bahwa sikap mendengarkan harus memiliki keterampilan mendengarkan.

Misalnya, sikap tersebut dikaitkan dengan rasa kontrol yang dirasakan oleh pekerja yang memiliki supervisor yang mendengarkan dengan cara yang positif, serta memiliki keterampilan mendengarkan yang baik.

Sikap dan keterampilan supervisor untuk mendengarkan secara aktif memiliki signifikansi yang setara, mengurangi reaksi stres dan meningkatkan kondisi kerja yang dirasakan oleh karyawan mereka.

Beberapa keterampilan mendengarkan secara aktif termasuk dilatih untuk mengajukan pertanyaan terbuka, memparafrasekan isi, merefleksikan perasaan, dan menggunakan pemeriksaan asumsi serta secara nonverbal.

Kedua, tahu pentingnya niat dan mencari regulasi bersama daripada disregulasi. Mendengarkan dengan niat membantu adalah bagian dari apa yang dibutuhkan untuk proses pengaturan bersama, di mana orang yang berbicara merasa lebih tenang saat didengarkan.

Regulasi bersama adalah proses ketika kita membantu orang lain mengatur emosi melalui suara kita, petunjuk kita, kepastian kita, kata-kata penghiburan kita, dan mengikuti arahan emosi yang ditawarkan oleh orang yang berbicara.

Penelitian dalam beberapa tahun terakhir membedakan antara co-disregulation dan coregulation, di mana satu orang memperkuat atau menenangkan emosi orang lain.

Misalnya, anak-anak yang didengarkan atau diasuh secara positif oleh orang tua mereka menunjukkan pengendalian diri, empati, tanggung jawab, dan keterlibatan sekolah yang lebih baik (Lewallen, et al, 2015) serta perilaku yang kurang eksternalisasi.

Demikian pula, pasangan dengan komunikasi dan pendengaran yang baik menunjukkan hubungan positif yang signifikan antara komunikasi pasangan dan kepuasan hubungan, (Vazhappilly, et al, 2016).

Di tempat kerja, pekerja yang didengar oleh atasan dan rekan kerja mereka, bisa memengaruhi kesehatan fisik. Misalnya, kurangnya dukungan dari supervisor, terbukti melibatkan peningkatan risiko kesehatan yang buruk dan hasil yang terkait pekerjaan (Hammig, 2017).

Ketiga, mengembangkan keterampilan mendengarkan. Mengetahui cara mendengarkan secara aktif sebenarnya membuat perbedaan. Misalnya, dalam sebuah penelitian terhadap 115 peserta yang terlibat dalam interaksi dengan 10 sekutu yang dilatih untuk menanggapi dengan pesan mendengarkan aktif, saran, atau ucapan terima kasih sederhana, peneliti menemukan bahwa peserta yang menerima tanggapan mendengarkan secara aktif merasa lebih dipahami daripada peserta yang menerima nasihat atau ucapan terima kasih (Weger, et al, 2014).

Hal terpenting, pendengar yang baik cenderung tidak memotong pembicaraan orang lain. Tunggu sampai orang selesai mengungkapkan pemikiran atau idenya dan tahan diri untuk tidak mengganggu saat orang berbicara.

Juga enyahkan gangguan seperti ponsel, komputer, dan gangguan lainnya agar dapat sepenuhnya fokus pada apa yang dikatakan orang lain. Benamkan diri dalam konten pesan pembicara agar mendengarkan menjadi mudah. Menjadi pendengar yang baik akan menuai manfaat dari hubungan yang lebih nyaman, lebih teratur, lebih dekat, dan lebih terlibat.

SHARE