Menilik Bahayanya Ponsel di Dalam Pesawat - Male Indonesia
Menilik Bahayanya Ponsel di Dalam Pesawat
MALE ID | Digital Life

Baru-baru ini viral adanya surat larangan pengangkutan ponsel merek tertentu melalui kargo udara. Surat larangan itu berasal dari maskapai penerbangan Garuda Indonesia yang beredar di media sosial. 

Photo by Jonathan Kemper on Unsplash

Di dalam surat yang beredar terkait larangan pengankutan ponsel pintar tersebut menyebutkan, bahwasannya petugas kargo harus memastikan tidak ada ponsel merek tertentu di setiap pengiriman. Sementara itu, untuk suku cadang, aksesori, selubung atau rangka ponsel tanpa baterai lithium masih bisa diterima dan diangkut melalui kargo udara.

Beredarnya surat peringatan tersebut buntut panjang dari sebuah insiden kebakaran kargo yang terjadi di apron bandara Hong Kong. Melansir Android Authority, kebakaran tepat sebelum palet yang berisi ponsel pintar dan aksesorisnya akan dimuat ke dalam pesawat kargo. Berdasarkan informasi, ponsel itu akan dikirim menuju Thailand.

Video insiden yang diposting di dunia maya menunjukkan api berasal dari sebuah palet dan menyebar ke dua palet lainnya. Foto juga menunjukkan banyak kotak dan ponsel yang rusak setelah kejadian itu. 

Insiden ini bukan hal baru. Pada 2016, Amerika juga pernah melarang salah satu merek ponsel pintar asal Korea Selatan untuk masuk ke dalam kabin pesawat. Hal tersebut karena adanya berita yang meluas terkait baterai litium-nya yang terbakar ketika dicas.

Insiden tersebut menjadi kasus terbaru saat itu menyangkut ponsel yang menciptakan masalah bagi maskapai penerbangan selama bertahun-tahun. Barang elektronik yang meledak terbakar jelas merupakan ancaman bahaya walau masalah-masalah lainnya tidak terlalu jelas sehingga membuat banyak di antara Anda mennjadi tidak yakin tentang hal yang dianggap aman dan tidak aman.

Lalu pertanyaannya, seberapa besar bahaya ponsel berada di dalam pesawat? Jika naik pesawat, Anda akan membawa ponsel ke dalam pesawat. Namun ponsel yang semakin canggih membuat maskapai penerbangan prihatin dengan masalah keamanan. Maka dari itu, saat naik pesawat pastinya Anda diminta untuk tidak memainkan ponsel selama penerbangan.

Pelarangan penggunaan ponsel saat sedang di dalam pesawat telah lama diberlakukan oleh seluruh maskapai di dunia dan penumpang harus mematuhi aturan tersebut. Saat sebelum take off pramugari akan memperingatkan melalui pengeras suara bahwa ponsel harus dialihkan ke mode pesawat (airplane mode) atau dinonaktifkan.

Hal ini tidak begitu saja dilarang, tentu ada alasannya. Ponsel yang menyala saat berada di dalam pesawat dapat memantulkan sinyal dari beberapa menara operator seluler yang dilewati pesawat, sehingga mampu mengirimkan sinyal yang jauh lebih kuat. Dan ini merupakan salah satu hal yang dapat mempengaruhi keselamatan awak dan para penumpang pesawat.

Pancaran gelombang dari ponsel akan menimbulkan bunyi yang mengganggu komunikasi pilot melalui headphones dengan ground control yang mengatur lalu lintas udara. Pilot akan mengalami gangguan untuk berkomunikasi dengan pihak pengawas lalu lintas udara.

Selain itu, pelarangan menyalakan ponsel memang hanya berlaku saat take off maupun saat landing. Namun ini pengaruhnya besar, karena akan mengganggu pesawat ketika take off dan landing adalah sinyal elektromagnetik. 

Mengutip laman BBC, NASA sudah menyusun daftar insiden terkait PED yang pernah terjadi di dalam pesawat. Dalam daftar yang diperbarui bulan Januari 2016 lalu, sedikitnya ada lima insiden yang melibatkan penyebaran sinyal dari telepon genggam.

Salah satu kasus tertulis adalah kapten melaporkan kemungkinan gangguan dari telepon genggam di dalam kabin yang bisa menjadi penyebab ketidakwajaran yang dialami sepanjang penerbangan.

Namun tidak ada insiden pasti yang berbahaya tentang telepon genggam yang tidak disetel mode penerbangannya yang menyebabkan pesawat jatuh atau terjadi kecelakaan. Bagaimapun sejalan dengan kekhawatiran pihak berwenang, lebih baik mentaati peraturan demi kehati-hatian.

SHARE