Ketidaknyamanan Pekerjaan Bisa Ubah Kepribadian - Male Indonesia
Ketidaknyamanan Pekerjaan Bisa Ubah Kepribadian
MALE ID | Works

Merasa tidak aman dalam pekerjaan bisa membuat orang yang mengalaminya menjadi kurang menyenangkan, kurang teliti, dan bahkan lebih neurotik.

Male IndonesiaPhoto by Andrea Piacquadio from Pexels

Hal itu diungkap dalam penelitian terbaru yang diterbitkan dalam Journal of Applied Psychology. Penelitian berdasarkan data yang dikumpulkan dari 1.046 karyawan yang berpartisipasi dalam survei dinamika rumah tangga, pendapatan, dan tenaga kerja di Australia selama periode 9 tahun.

“Hasil menunjukkan bahwa ketidakamanan pekerjaan kronis selama 4 atau 5 tahun sebelumnya memprediksi peningkatan kecil dalam neurotisme dan penurunan kecil pada keramahan,” kata ketua peneliti Chia-Huei Wu dari sekolah bisnis Universitas Leeds, dilansir dari Psychology Today.

Studi ini menyebutkan, ketidakamanan kerja berimplikasi penting pada kepribadian seseorang ketika dialami dalam jangka panjang. Namun tidak semua ciri kepribadian dipengaruhi oleh ketidakamanan kerja. Orang dengan kepribadian ekstraversi sebagian besar tetap tidak berubah.

Menurut para peneliti, ketidakamanan kerja yang kronis menyebabkan episode stres berkepanjangan, yang dapat menghasilkan perubahan kepribadian yang langgeng. Misalnya, menyebabkan orang menjadi lebih gelisah, kurang disiplin, kurang terorganisir, dan lebih tidak menyenangkan.

Hasil ini mewakili contoh atau gagasan bahwa kepribadian seseorang bisa menjadi tidak tetap atau dapat berubah. Penelitian juga menunjukkan bahwa kepribadian kita cenderung berkembang secara bertahap dari waktu ke waktu, dan biasanya menjadi lebih baik.

Misalnya, orang cenderung menjadi lebih teliti, kurang narsistik, dan lebih stabil secara emosional seiring bertambahnya usia. Namun ada juga yang bisa berjalan ke arah lain, terutama ketika orang mengalami episode stres berkepanjangan, seperti yang ditunjukkan penelitian ini.

Selain itu para peneliti melihat adanya efek negatif karena stres terkait pekerjaan terhadap kesehatan mental akan menjadi lebih buruk. Peneliti menyatakan, arus utama pola pekerjaan menjadi semakin tidak stabil dan tidak aman, atau genting, pada mereka dengan pekerjaan sementara dan berbasis kontrak. Dalam hal ini meningkatnya ketidakamanan bekerja sebagai risiko psiko-sosial utama dari pekerjaan terhadap masa depan.

Jaring Pengaman

Lantas apa yang bisa dilakukan untuk melawan risiko? Para peneliti menyarankan bahwa pemerintah harus menawarkan jaring pengaman yang lebih kuat untuk melindungi warga dari perubahan pasar tenaga kerja. Suatu studi pernah menemukan bahwa negara-negara yang menawarkan jaring pengaman sosial nasional yang kuat melindungi hubungan negatif antara ketidakamanan kerja dan sikap kerja.

Sementara di tingkat organisasi, perusahaan harus menawarkan persyaratan kerja yang stabil jika memungkinkan. Perusahaan mungkin juga berinvestasi dalam intervensi yang bertujuan untuk meningkatkan keterlibatan dan kesejahteraan karyawan.

Menurut peneliti, intervensi yang ditargetkan seperti itu dapat mengurangi respons emosional negatif karyawan terhadap pekerjaan mereka, mengurangi pengunduran diri dari pekerjaan, dan mengurangi perhatian yang berfokus pada diri sendiri, sehingga mencegah putaran arah perubahan kepribadian.

Penelitian lain pernah menunjukkan seberapa efektif intervensi kesejahteraan karyawan bisa dilakukan dengan benar. Tim ilmuwan yang dipimpin Ad Bergsma dari Erasmus University Rotterdam di Belanda menganalisis hasil dari 61 studi pelatihan kebahagiaan yang diterbitkan antara tahun 1972 dan 2019.

Mereka menemukan bahwa sebagian besar studi tersebut menunjukkan efek positif pada tingkat kebahagiaan karyawan.

“Teknik pelatihan kebahagiaan tampaknya melakukan apa yang dirancang untuk mereka lakukan. 96 persen studi menunjukkan peningkatan kebahagiaan pasca-intervensi dan tindak lanjut, dan sekitar setengah dari hasil positif signifikan secara statistik,” kata Bergsma.

SHARE