Fenomena Six-Pack Bermula dari Patung Yunani Kuno - Male Indonesia
Fenomena Six-Pack Bermula dari Patung Yunani Kuno
MALE ID | Story

Minat pria untuk membentuk otot perut kotak kotak (six-pack) tampaknya tak pernah surut. Tempat-tempat olahraga fitnes dan gym pun bermunculan. Di sana berbagai fasilitas disediakan bagi mereka yang ingin memelihara kebugaran serta membentuk otot tubuh agar terlihat atletis.

Male IndonesiaPhoto:Pexels.com

Anda masih ingat aktor Arnold Schwarzenegger atau Sylvester Stallone dalam film Rambo? Mungkin bisa dibilang sejak mereka muncul dalam beberapa filmnya di era tahun 80-an, yang sekaligus mengekspos keindahan tubuh mereka yang kekar berotot, sejak itulah fenomena tubuh berotot sebagai postur ideal seorang pria semakin membumi. 

Sejarawan Prancis George Vigarello, dilansir dari menshealth, pernah menulis tentang bagaimana sosok pria bertubuh ideal dan siluet pria bergeser pada masyarakat Barat. Budaya Inggris dan Amerika pada abad ke-17 hingga ke-18 menghargai tubuh laki-laki yang besar atau gemuk. Alasannya yaitu orang kaya mampu makan lebih banyak, dan kerangka tubuh yang lebih besar menunjukkan keberhasilan.

Barulah pada awal abad ke-19, fisik ramping dan berotot mulai didambakan. Dalam kurun waktu beberapa dekade, tubuh montok dipandang sebagai sesuatu yang jorok. Sementara tubuh ramping, atletis atau berotot dikaitkan dengan kesuksesan, disiplin diri dan bahkan kebaikan.

Kemudian ahli kinesiologi Jan Todd pernah menulis tentang dampak patung Yunani kuno terhadap citra tubuh. Artefak seperti Elgin Marbles dan sekelompok patung pria dengan tubuh ramping dan berotot yang dibawa dari Yunani ke Inggris pada awal tahun 1800-an, telah mendorong pria pada masa itu untuk memiliki tubuh berotot.

Dampak dari patung-patung itu, ahli pendidikan jasmani di Inggris George Forrest mengeluh bahwa orang Inggris tampaknya tidak memiliki rangkaian otot indah mengelilingi seluruh pinggang seperti patung-patung kuno itu.

Selanjutnya, pertumbuhan senam militer di awal abad ke-19 juga turut mempengaruhi tipe tubuh ideal pria masyarakat Eropa. Ketika Perang Napoleon masa itu, beberapa program senam dibuat untuk memperkuat tubuh pemuda di seluruh Eropa.

Tentara Perancis terkenal karena kebugaran fisik mereka, baik dalam hal kemampuan berbaris selama berhari-hari maupun bergerak cepat dalam pertempuran. Setelah banyak negara Eropa menderita kekalahan di tangan pasukan Napoleon, mereka lantas mulai serius memperhatikan kesehatan pasukan mereka.

Di Perancis, seorang instruktur senam Spanyol bernama Don Francisco Amorós y Ondeano ditugaskan untuk membangun kembali fisik dan stamina pasukan Perancis. Sedangkan di Inggris seorang instruktur fitness Swiss bernama PH Clias melatih militer dan angkatan laut selama tahun 1830-an. Untuk mengakomodasi minat orang Eropa terhadap kebugaran, lantas gimnasium semakin besar mulai dibangun di seluruh benua.

Singkatnya, benih penggemar six-pack modern ditanam dengan dua cara. Pertama, pria mulai mengamati patung Yunani dengan rasa iri. Kemudian mereka mengembangkan alat untuk membentuk tubuh berotot. Bahkan banyak penulis pada tahun 1830-1840-an mendorong pria untuk memiliki tubuh langsing, tulang yang kuat, dan tidak ada lemak tubuh yang berlebih.

Kedua, obsesi six-packs kemudian benar-benar berkembang di awal 1900-an. Saat itu binaragawan Eugen Sandow turut membangun minat pria yang ingin bertubuh atletis melalui foto-fotonya di majalah olahraga dan perangko, serta memberikan ilmu baru tentang suplemen nutrisi untuk memiliki tubuh sempurna. Sandow dianggap mengilhami banyak pria untuk membuang lemak berlebih pada tubuh, khususnya bagian perut.

Barulah pada akhir 1980-an dan awal 1990-an, otot perut kotak kotak atau six-pack mulai dikenal. Popularitas istilah ini lantas berkembang secara eksponensial.

SHARE