Orang Cerdas Perlu Waspada Dalam Hubungan Sosial - Male Indonesia
Orang Cerdas Perlu Waspada Dalam Hubungan Sosial
MALE ID | Works

Sebuah studi baru menyelidiki hubungan potensial antara kecerdasan dan kesukaan. Apakah orang pintar cenderung lebih disukai di antara teman sebayanya? Apakah orang pintar cenderung kurang menyukai orang yang kurang cerdas, dan kemungkinan hanya menyukai orang cerdas lainnya?

Male IndonesiaPhoto:pexels.com

Beberapa faktor umum sering memengaruhi seseorang menyukai orang lain yaitu menyangkut kepribadian yang menyenangkan seperti tentang pendapat, pemikiran, nilai-nilai, dan keyakinan yang serupa. Serta tentunya ada daya tarik fisik yang tinggi.

Sementara faktor lain yang mungkin agak rumit adalah hubungan sosial terkait kecerdasan. Dapat diasumsikan bahwa orang pada umumnya lebih menyukai orang yang lebih pintar, atau mungkin karena lebih menarik untuk diajak bicara. Asosiasi ini mungkin juga merupakan fungsi dari keseimbangan kecerdasan kedua orang tersebut.

Namun juga tak jarang, terhadap seseorang yang pintar, orang lain dengan kecerdasan rendah mungkin tidak menyukainya karena merasa terlihat lebih buruk jika dibandingkan. Sebaliknya, orang yang pintar mungkin merasa orang lain dengan kecerdasan rendah kurang menarik untuk diajak bicara sehingga kurang disukai.

Atas fenomena tersebut, studi baru-baru ini yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah Personality and Individual Differences (Flakus et al., 2021) menyelidiki hubungan antara kecerdasan dan disukai.

Dalam studi itu, dilansir dari Psychology Today, peneliti Maria Flakus dan timnya menganalisis data yang dikumpulkan dari siswa sekolah menengah Polandia. Para siswa diuji menggunakan tes kecerdasan standar (Matriks Progresif Raven) dan juga diminta untuk menunjukkan siswa mana lainnya di kelas mereka yang paling mereka sukai.

Peneliti tidak memberikan batasan pada daftar orang yang disukai, sehingga pada awalnya siswa belum bisa memilih siapa pun di kelas tersebut. Tes ini pun dilakukan tiga kali. Yaitu selama bulan pertama sekolah atau ketika para murid belum saling mengenal dengan baik.

Kemudian setelah 3 bulan sekolah barulah mereka mulai mengenal satu sama lain. Selanjutnya, setelah 12 bulan bersekolah, para murid semakin mengenal satu sama lain dengan baik.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecerdasan memengaruhi rasa disukai atau tidak oleh orang lain. Menariknya, hal itu terjadi dengan cara berlawanan. Siswa yang cerdas lebih disukai oleh teman sekelasnya. Namun mereka juga cenderung menyukai lebih sedikit orang daripada murid yang kurang cerdas.

Secara khusus, murid yang cerdas memiliki kecenderungan hanya menyukai orang lain yang secerdas dirinya, tetapi tidak menyukai orang dengan kecerdasan rendah.

Meski demikian, efek menyukai orang lain karena kecerdasan mereka paling kuat hanya selama tes pertama, dan menjadi lebih lemah seiring waktu. Dengan demikian, seiring berjalannya waktu, pentingnya kecerdasan dalam membangun hubungan sosial semakin berkurang dan justru ada faktor lain menjadi lebih penting.

Para peneliti menilai, bahwa seiring waktu, mengetahui tentang minat yang sama mungkin menjadi faktor penting dalam menyukai, dibandingkan mengetahui bahwa mereka pintar.

Hubungan antara kecerdasan dan kesukaan memang paling kuat di awal menjalin hubungan. Tetapi seiring waktu, kecerdasan menjadi kurang penting. Ini mungkin menjadi masalah, jika misalnya murid yang cerdas hanya menyukai orang cerdas lainnya. Dampaknya, mereka bisa dianggap sombong dan menjadi terisolasi atau bahkan mengakibatkan pengabaian sosial.

Oleh karena itu, peneliti mengingatkan, agar orang pintar perlu ekstra hati-hati dalam menjaga hubungan sosialnya. Hal ini penting, supaya tidak menimbulkan kesan angkuh atau dituding merasa paling pintar dalam pergaulan mereka sehari-hari. 

SHARE