Waspadai Anafilaksis Akibat Olahraga - Male Indonesia
Waspadai Anafilaksis Akibat Olahraga
MALE ID | Sex & Health

Mungkinkah alergi terhadap olahraga? “Tidak secara teknis,” kata Dr Andrew Murphy, seorang ahli alergi di Suburban Allergy Consultants, Pennsylvania.

Male Indonesia Photo: Pexels.com

Ketika seseorang terpapar sesuatu yang membuatnya alergi, akan berinteraksi dengan antibodi pada sel kekebalan tubuh mereka. Sel kekebalan itu mengeluarkan bahan kimia seperti histamin yang menyebabkan bersin, gatal-gatal, sesak napas dan gejala lainnya.

Jadi dalam hal ini, olahraga dapat memicu serangkaian gejala alergi pada orang dengan kondisi langka yang disebut anafilaksis akibat olahraga.

“Ini belum tentu dimediasi oleh antibodi, tetapi olahraga adalah pemicu ketika sel-sel alergi masih aktif,” kata Murphy, dilansir dari Live Science.

Anafilaksis adalah reaksi sistem imun parah yang terjadi secara tiba-tiba setelah tubuh terkena alergen atau pemicu alergi. Dikenal pula sebagai syok anafilaksis, reaksi yang tergolong sebagai kondisi medis darurat ini dapat terjadi di mana saja dalam hitungan detik hingga menit setelah Anda terkena alergen.

Gejala alergi amat bervariasi, tergantung pemicu dan tingkat keparahannya. Beberapa orang mungkin merasakan gatal-gatal atau hidung berair ketika terkena alergen, tapi reaksi anafilaksis pada penderita alergi parah bisa menyebabkan syok hingga kematian bila tidak segera ditangani.

Olahraga bisa memicu reaksi alergi pada beberapa orang. Satu teori menyebutkan bahwa olahraga menyebabkan pelepasan endorfin, yang memicu sel-sel kekebalan tertentu untuk melepaskan bahan kimia seperti histamin, menurut tinjauan 2010 di jurnal Current Allergy and Asthma Reports.

Murphy sendiri pernah menangani pasien mengidap anafilaksis akibat olahraga yang bergantung pada makanan. Bagi mereka, makan makanan tertentu sebelum berolahraga dapat menyebabkan gejala seperti sesak napas atau gatal-gatal.

Ada beberapa teori mengapa makanan tertentu yang dikombinasikan dengan olahraga dapat menyebabkan reaksi alergi, termasuk olahraga membuat saluran pencernaan lebih permeabel, memungkinkan alergen bersentuhan lebih baik dengan sistem kekebalan tubuh.

Menurut ulasan di jurnal Current Allergy and Asthma Reports, anafilaksis akibat olah raga jarang terjadi. Sekitar 2 persen orang di dunia Barat mengalami anafilaksis, dan 5-15 persen kasus disebabkan oleh olahraga. Versi yang bergantung pada makanan dari kondisi ini kurang umum dan mewakili antara sepertiga dan setengah dari semua kasus.

Reaksi serius sebagai respons terhadap olahraga, menurut Murphy jarang terjadi. Dalam 25 tahun praktiknya, dia hanya melihat satu orang pingsan karenanya. “Saya biasanya melihat lebih banyak orang dengan gejala kulit seperti gatal-gatal, atau mereka mengalami pembengkakan bibir atau sesak napas karena itu,” jelasnya.

Jalan-jalan santai dapat memicu reaksi anafilaksis pada beberapa orang, tetapi yang lain dapat mengendarai sepeda tanpa masalah. 

Perawatan untuk anafilaksis akibat olahraga yang bergantung pada makanan cukup sederhana yaitu jangan makan selama empat jam sebelum dan setelah berolahraga. Serta menghindari makanan yang dikhawatirkan sebagai pemicunya.

Cara terbaik untuk mencegah anafilaksis adalah dengan menghindari semua hal yang memicu alergi. Anda dapat mengetahuinya dengan tes alergi sederhana berupa tes tusuk kulit (skin prick test), tes tempel kulit (patch test), ataupun tes darah.

Begitu Anda mengetahui apa saja yang menyebabkan reaksi alergi pada tubuh Anda, cobalah berkonsultasi dengan dokter. Dokter ahli alergi akan memberikan saran untuk menghindari berbagai pemicu di sekitar Anda.

Biasanya, dokter juga akan memberikan obat alergi darurat seperti suntikan epinefrin atau adrenalin. Suntikan ini bekerja dengan membalikkan gejala anafilaksis, terutama meningkatkan tekanan darah dan melebarkan saluran pernapasan.

SHARE