Sosok Pencetus Penghargaan Bergengsi di Dunia Jurnalistik - Male Indonesia
Sosok Pencetus Penghargaan Bergengsi di Dunia Jurnalistik
Gading Perkasa | Story

Di kalangan para penggiat media seperti wartawan, Joseph Pulitzer sudah melekat di benak mereka sebagai jurnalis legendaris dunia. Mengapa demikian? Joseph Pulitzer adalah sosok di balik lahirnya penghargaan paling bergengsi di dunia jurnalistik bernama Pulitzer Prize. Penghargaan ini diberikan kepada wartawan dan penulis yang membuat karya tulis terbaik.

jurnalis legendaris

wiki

Sejatinya, usia dari penghargaan Pulitzer Prize sudah mencapai 100 tahun, sejak pertama kali diadakan pada tahun 1917. Namun bukan hal itu yang akan kita bahas pada kesempatan ini, melainkan perjalanan sang jurnalis legendaris dunia, Joseph Pulitzer. Siapa menyangka, sebelum namanya dikenang oleh para wartawan di seluruh dunia seperti sekarang, perjalanan hidupnya (Joseph-red.) dihiasi kisah kelam dan penuh lika-liku.

Sejak lahir pada 10 April 1847 di Mako, Hungaria, Joseph sebenarnya sudah mengalami kisah yang cukup pahit. Banyak dari saudara kandungnya meninggal dunia ketika ia masih berusia sangat belia. Ia hanya memiliki seorang adik. Menginjak usia 11 tahun, giliran sang ayah yang wafat karena sakit. Ia menjadi anak yatim hingga ibunya menikah lagi.

Beberapa tahun berselang, Joseph mencoba peruntungannya dan melamar sebagai tentara. Ia mendaftar di angkatan perang kerajaan Austria, tetapi ditolak. Bahkan angkatan perang Perancis dan Inggris juga menolak permohonannya bergabung sebagai tentara. Apakah ia menyerah? Tidak. Akhirnya kavaleri Amerika Serikat menerimanya sebagai tentara.

Setelah menjadi seorang tentara Amerika, Joseph diberi tugas pertama ke kota Boston untuk membantu mengakhiri perang saudara yang sedang berkecamuk di negeri Paman Sam saat itu. Perang saudara pun berakhir. Maka berakhir juga tugas Joseph di dinas militer. Sejak itulah ia terlunta-lunta hidupnya dan tak memiliki pekerjaan.

Berada di salah satu kota terbesar di dunia, New York membuat Joseph berpikir keras dan mencari jalan keluar. Ia memutuskan pergi ke St. Louis, Missouri dengan modal seadanya. Setibanya di sana, Joseph pernah menjadi buruh pengangkut batu bara, supir, pelayan restoran dan penggali kuburan ketika wabah kolera sedang melanda kota tersebut.

Semangatnya seolah tak pernah padam. Ia belajar bahasa Inggris selama siang dan malam, bahkan sering menghabiskan waktu di perpustakaan. Hingga akhirnya pemilik surat kabar Westliche Post, Carl Schurz menemukan dirinya. Di tahun 1868, Joseph Pulitzer resmi mengawali karirnya di dunia jurnalistik. Dimana ia diterima sebagai seorang wartawan.

Menjadi seorang wartawan, banyak pihak memuji kinerja Joseph. Hal ini lantaran kegigihannya dalam mencari data dan fakta berita. Berbalut pujian membuat namanya kian melambung. Dari dunia jurnalistik, ia memutuskan banting setir ke dunia politik dan mendaftar sebagai anggota partai Demokrat.

Di dunia barunya, Joseph tidak begitu disukai pejabat dan politisi di kota St. Louis. Bagaimana tidak, nalurinya sebagai seorang wartawan masih sangat kuat meski sudah menduduki kursi parlemen. Bahkan ia berusaha membongkar kebobrokan antar pengusaha dan politisi dalam sejumlah proyek penting. Ulahnya mengakibatkan banyak pejabat berang hingga menyebut Joseph Pulitzer adalah seorang ‘big liar’. Singkat cerita, konflik terus berlanjut dan pada 1870 ia gagal di pemilihan.

Karir politiknya hancur lebur. Ia pulang ke habitatnya, dunia jurnalistik. Beruntung, Westliche Post mau menerimanya kembali dan ia diangkat menjadi Managing Editor. Rupanya, jiwa seorang jurnalis sangat membara di diri Joseph. Keseriusannya berbuah hasil. Joseph melahirkan surat kabar baru bernama Post-Dispatch.

Hasilnya? Sukses besar. Para pembaca sangat tertarik lantaran isinya yang terbilang berani. Antara lain berita tentang kebobrokan pejabat, kasus korupsi, perjudian dan penipuan asuransi. Surat kabar ludes di pasaran, sirkulasi penjualan meningkat drastis. Cikal bakalnya sebagai seorang jurnalis legendaris mulai terkuak. Meski, Joseph melahirkan banyak musuh seperti pejabat dan politisi lantaran pemberitaannya yang selalu tajam.

Awal Mei 1883, giliran surat kabar New York World diambil alih dengan gaya investigasi mendalam seperti surat kabar milik Joseph sebelumnya. Sungguh ironis, kondisi kesehatannya mulai memburuk. Ia nyaris buta sehingga harus memakai alat bantu untuk bekerja.

Joseph Pulitzer wafat pada 29 Oktober 1911 karena sakit jantung di usia 64 tahun. Sosoknya akan selalu dikenang sebagai jurnalis legendaris dunia oleh para wartawan saat ini. Warisannya berjudul Pulitzer Prize adalah bentuk kecintaannya di dunia jurnalistik.**GP

SHARE