Orang dengan Afantasia Sulit Ditakuti - Male Indonesia
Orang dengan Afantasia Sulit Ditakuti
MALE ID | Sex & Health

Penelitian terbaru menemukan bahwa orang dengan afantasia lebih sulit ditakuti dengan cerita mengerikan. Afantasia adalah ketidakmampuan untuk memvisualisasikan gambaran mental dalam pikiran seseorang.

Male IndonesiaPhoto:Pexels.com

Banyak orang dengan afantasia juga tidak dapat mengingat suara, bau, atau sensasi sentuhan. Beberapa juga melaporkan prosopagnosia atau ketidakmampuan mengenali wajah. Penelitian tentang kondisi tersebut masih langka.

Studi dari University of New South Wales di Sydney belum lama ini menguji bagaimana orang-orang afantasik bereaksi terhadap bacaan-bacaan seperti dikejar hiu, jatuh dari tebing, atau berada di pesawat yang akan jatuh.

Para peneliti mengukur secara fisik respons ketakutan setiap peserta dengan memantau perubahan tingkat konduktivitas kulit, atau dengan kata lain, seberapa banyak cerita tersebut membuat seseorang berkeringat. Jenis tes ini biasa digunakan dalam penelitian psikologi mengukur ekspresi emosi fisik tubuh.

Menurut temuan tersebut, cerita menakutkan menghilangkan rasa takut mereka karena tidak dapat membayangkan gambaran secara visual. Ini menunjukkan bahwa suatu gambar mungkin memiliki hubungan dekat dengan emosi.

"Kami menemukan bukti bahwa citra mental memainkan peran kunci dalam menghubungkan pikiran dan emosi," kata Profesor Joel Pearson, Direktur Laboratorium Pikiran Masa Depan di UNSW dan penulis makalah tersebut, dilansir dari sciencedaily.

Peneliti kemudian mengujinya dengan memandu 46 peserta studi (22 dengan afantasia, dan 24 yang mampu memvisualisasikan gambar) ke ruangan gelap dan memasang beberapa elektroda ke kulit mereka. Kulit dikenal sebagai konduktor listrik yang baik saat seseorang merasakan emosi kuat seperti ketakutan.

Kemudian peserta diperlihatkan pada sebuah cerita di layar. Awalnya cerita dimulai dengan peristiwa biasa, misalnya berada di pantai, di dalam air, berada di pesawat, dan di dekat jendela. Seiring cerita berlanjut, ketegangan perlahan terbangun, seperti melihat kilatan gelap di ombak, atau lampu kabin meredup saat pesawat mulai bergetar.

“Konduktivitas kulit mulai meningkat cepat untuk orang-orang yang mampu memvisualisasikan cerita itu. Semakin cerita itu berlanjut, semakin banyak reaksi kulit mereka. Tapi bagi penderita afantasia, tingkat konduktivitas kulitnya cukup datar,” kata Prof Pearson.

Untuk memeriksa bahwa perbedaan ambang ketakutan tidak menyebabkan respons, eksperimen diulangi menggunakan serangkaian gambar menakutkan, seperti foto mayat atau ular dengan taringnya. Namun kali ini, gambar-gambar itu membuat respon merata di kedua kelompok peserta.

Menurut Prof Pearson, kedua rangkaian hasil itu menunjukkan bahwa afantasia tidak terkait dengan penurunan emosi secara umum, tetapi khusus untuk peserta yang membaca cerita menakutkan. Respon ketakutan emosional hadir saat peserta benar-benar melihat materi seram di depan mereka.

Tahun sebelumnya, studi UNSW juga menemukan bahwa afantasia terkait dengan pola perubahan luas pada proses kognitif lainnya, seperti mengingat, bermimpi, dan membayangkan. Bukti ini menungkap afantasia sebagai fenomena unik yang dapat diverifikasi.

Ide untuk eksperimen ini muncul setelah tim peneliti melihat adanya sentimen yang berulang dalam sejumlah diskusi tentang afantasia bahwa banyak orang dengan kondisi tersebut tidak suka membaca fiksi.

Prof Pearson mengatakan bahwa temuan itu didasarkan pada tingkat rata-rata, dan tidak semua orang dengan afantasia memiliki pengalaman membaca yang sama.

"Jadi jangan khawatir jika Anda menderita afantasia. Ada banyak variasi pada afantasia yang baru saja kami temukan. Afantasia adalah keanekaragaman saraf. Ini adalah contoh yang luar biasa tentang betapa berbedanya otak dan pikiran kita,” tandasnya.(*)

SHARE