Manfaat Berkencan yang Dimulai dari Persahabatan - Male Indonesia
Manfaat Berkencan yang Dimulai dari Persahabatan
MALE ID | Relationships

Pernahkah Anda mengenal seseorang selama bertahun-tahun, hingga pada suatu hari Anda melihatnya secara berbeda? Anda melihat rekan kerja, tetangga, atau teman di lingkaran sosial Anda, kemudian tiba-tiba Anda menginginkannya menjadi kekasih Anda. Dari segi kepribadian, pasangan yang langsung jatuh cinta berbeda dengan pasangan yang mulai dari persahabatan. Rata-rata orang justru lebih menyukai pasangan yang kepribadiannya mirip dengan mereka, terutama menyangkut sifat stabilitas emosional dan ekstraversi.

Male IndonesiaPhoto:Pexels.com

Naksir seorang teman, secara pribadi atau profesional, bisa dibilang cukup rumit. Pertama, Anda ingin tahu apakah perasaan Anda akan terbalas. Kedua, keterlibatan hal yang bersifat romantis bisa memengaruhi hubungan Anda dalam konteks profesional.

Anda akan bertanya pada diri sendiri, bagaimana jika itu hanya drama sesaat? Bagaimana jika nantinya Anda putus? Tetapi sebelum pesimis dan meramalkan kehancuran dari sebuah hubungan yang belum dimulai, pertimbangkan fakta bahwa ketertarikan pada seorang teman baik tidak selalu negatif. Penelitian mengungkapkan bahwa hubungan yang berkualitas dan berkomitmen sering kali dimulai dari persahabatan yang berkualitas.

Mengukur Kepribadian dari Persahabatan

Tentang tumpang tindih antara persahabatan dan romansa, Dick PH Barelds dan Pieternel Barelds-Dijkstra mempelajari masalah ini dalam "Cinta pada Pandangan Pertama atau Teman Pertama?"

Dilansir dari Psychology Today, mereka mempelajari sampel 137 pasangan yang tinggal bersama, mereka memeriksa antara permulaan hubungan, kesamaan kepribadian, dan kualitas hubungan. Mereka menemukan bahwa pasangan yang “jatuh cinta pada pandangan pertama” mengembangkan hubungan romantis lebih cepat, tetapi menunjukkan perbedaan kepribadian yang lebih bijaksana mengenai stabilitas emosional, otonomi, dan ekstraversi (meskipun kelompok ini tidak melaporkan kualitas hubungan yang lebih rendah).

Berkenaan dengan karakteristik kepribadian, Barelds dan Barelds-Dijkstra mencatat bahwa karakteristik tersebut membutuhkan waktu untukmemahami perbedaan kepribadian pasangan.

Mereka mulai mengenal satu sama lain secara bertahap dan lebih mampu membedakan ciri dan watak kepribadian yang berbeda. Mereka juga sering kali berada dalam posisi yang baik untuk memutuskan apakah teman, kolega, atau tetangga tersebut akan cocok sebagai pasangan mereka.

Sementara untuk pasangan yang berteman sebelum berpacaran, para peneliti menemukan bahwa pasangan tersebut telah menginvestasikan lebih banyak waktu dalam fase pengembangan hubungan untuk mengenal dan menunjukkan kepribadian yang lebih mirip. Ini berbeda dengan mereka yang jatuh cinta pada pandangan pertama.

Peneliti menyimpulkan, orang lebih memilih pasangan yang memiliki kepribadian serupa, tetapi hanya dapat secara akurat memilih pasangan tersebut ketika mereka memiliki waktu dan kesempatan untuk saling mengenal.

Barelds dan Barelds-Dijkstra mencatat bahwa hubungan yang mengutamakan persahabatan dicirikan oleh tingkat komitmen dan keintiman yang lebih tinggi. Artinya, hubungan yang dibangun di atas fondasi yang baik berpotensi untuk tumbuh kuat dan kokoh.

Dalam hal preferensi pasangan yang cerdas dan terinformasi, seringkali dalam pertemanan yang sudah mapan kita menemukan diri kita sendiri pada posisi terbaik untuk membedakan ciri-ciri kepribadian secara akurat.

Memang, kita sering memiliki teman karena kita tertarik dan merasa nyaman dengannya. Ini sering kali karena nilai dan minat yang sama. Jadi tidak heran jika hubungan romantis yang paling sukses tumbuh dari hubungan kepercayaan dan kesamaan yang sehat, yang seringkali didasarkan pada persahabatan yang kuat.

Jadi, menghabiskan waktu untuk mengenal seseorang sebagai teman sebelum mempertimbangkan sesuatu yang lebih, tampaknya merupakan predikat yang bijaksana dan praktis untuk membentuk hubungan yang berkualitas.

 

SHARE