GPS Bisa Melakukan Lebih Dari yang Anda Pikirkan - Male Indonesia
GPS Bisa Melakukan Lebih Dari yang Anda Pikirkan
MALE ID | Digital Life

Global Positioning System (GPS) adalah sistem navigasi berbasis satelit yang terdiri dari setidaknya 24 satelit. GPS berfungsi dalam segala kondisi cuaca, di mana pun di dunia, 24 jam sehari, tanpa biaya berlangganan atau biaya penyiapan. Departemen Pertahanan AS (USDOD) awalnya menempatkan satelit ke orbit untuk penggunaan militer, tetapi mereka dibuat tersedia untuk digunakan sipil pada 1980-an.

Photo by Kamaji Ogino from Pexels

Selama dekade terakhir, GPS tidak hanya untuk menavigasi Anda untuk keliling kota atau menemukan lokasi Anda ketika berada di peguungan. Kini perangkat GPS yang lebih cepat dan lebih akurat bahkan bisa melakukan lebih dari yang Anda pikirkan. Mengutip laman Scientificamerican, berikut ini yang bisa dilakukan GPS.

Merasakan Gempa Bumi
Selama berabad-abad ahli geosains mengandalkan seismometer, yang mengukur seberapa besar getaran tanah, untuk menilai seberapa besar dan seberapa buruk gempa tersebut. Penerima GPS memiliki tujuan yang berbeda, untuk melacak proses geologi yang terjadi pada skala yang jauh lebih lambat, seperti kecepatan lempeng kerak bumi yang saling bergesekan dalam proses yang dikenal sebagai lempeng tektonik. 

Kebanyakan peneliti berpikir bahwa GPS tidak dapat mengukur lokasi dengan cukup tepat, dan cukup cepat, untuk berguna dalam menilai gempa bumi. Tapi ternyata para ilmuwan dapat memeras informasi tambahan dari sinyal yang dipancarkan satelit GPS ke Bumi.

Pada tahun 2003, dalam salah satu studi pertama dari jenisnya, Larson dan rekan-rekannya menggunakan penerima GPS yang tersebar di Amerika Serikat bagian barat untuk mempelajari bagaimana tanah bergeser saat gelombang seismik beriak dari gempa berkekuatan 7,9 di Alaska. 

Pada tahun 2011, para peneliti dapat mengambil data GPS tentang gempa berkekuatan 9,1 yang menghancurkan Jepang dan menunjukkan bahwa dasar laut telah bergeser secara mengejutkan sejauh 60 meter selama gempa tersebut.

Memantau Gunung Berapi
Selain gempa bumi, kecepatan GPS membantu merespons lebih cepat bencana alam lainnya saat terjadi. Banyak observatorium gunung berapi, misalnya, memiliki penerima GPS yang ditempatkan di sekitar pegunungan yang mereka pantau, karena ketika magma mulai bergeser ke bawah tanah yang sering menyebabkan permukaan juga bergeser. 

Dengan memantau bagaimana stasiun GPS di sekitar gunung berapi naik atau tenggelam dari waktu ke waktu, peneliti bisa mendapatkan gambaran yang lebih baik tentang ke mana batuan cair mengalir.

Sebelum letusan besar gunung Kilauea tahun lalu di Hawaii, para peneliti menggunakan GPS untuk memahami bagian mana dari gunung berapi yang bergeser paling cepat. Pejabat setempat menggunakan informasi itu untuk membantu memutuskan daerah mana yang bisa dievakuasi lebih dahulu.

Data GPS juga dapat berguna bahkan setelah gunung berapi meletus. Karena sinyal bergerak dari satelit ke tanah, mereka harus melewati materi apa pun yang dikeluarkan gunung berapi ke udara. Pada 2013, beberapa kelompok penelitian mempelajari data GPS dari letusan gunung berapi Redoubt di Alaska empat tahun sebelumnya dan menemukan bahwa sinyal menjadi terdistorsi segera setelah letusan dimulai.

Dengan mempelajari distorsi, para ilmuwan dapat memperkirakan berapa banyak abu yang dimuntahkan dan seberapa cepat abu itu menyebar.

Bisa Mendeteksi Ketinggian Air
GPS mungkin dimulai sebagai cara untuk mengukur lokasi di tanah yang kokoh, tetapi ternyata juga berguna dalam memantau perubahan ketinggian air. Pada bulan Juli, John Galetzka, seorang insinyur di organisasi penelitian geofisika UNAVCO di Boulder, Colorado, menemukan dirinya memasang stasiun GPS di Bangladesh, di persimpangan sungai Gangga dan sungai Brahmaputra. 

Tujuannya adalah untuk mengukur apakah sedimen sungai memadat dan tanah perlahan-lahan tenggelam, yang membuatnya lebih rentan terhadap banjir selama siklon tropis dan kenaikan permukaan laut. “GPS adalah alat luar biasa untuk membantu menjawab pertanyaan ini dan banyak lagi,” kata Galetzka.

Di sebuah komunitas petani bernama Sonatala, di pinggir hutan mangrove, Galetzka dan rekan-rekannya menempatkan satu stasiun GPS di atap beton sebuah sekolah dasar. Mereka mendirikan stasiun kedua di dekatnya, di atas sebuah tongkat yang ditancapkan ke sawah. 

Jika tanah benar-benar tenggelam, maka stasiun GPS kedua akan terlihat seperti muncul perlahan dari tanah. Dan dengan mengukur gema GPS di bawah stasiun, para ilmuwan dapat mengukur faktor-faktor seperti berapa banyak air yang menggenang di sawah selama musim hujan. Penerima GPS bahkan dapat membantu ahli kelautan dan pelaut, dengan bertindak sebagai pengukur pasang surut.

SHARE