Mengenal Pandemic Fatigue dan Faktor Penyebabnya - Male Indonesia
Mengenal Pandemic Fatigue dan Faktor Penyebabnya
MALE ID | Sex & Health

Pernah mendengar istilah pandemic fatigue? Mungkin istilah tersebut masih terdengar asing, tapi sebenarnya, kondisi itu sedang dialami banyak orang. Pandemic fatigue merupakan kondisi kelelahan fisik dan mental seseorang akan pandemi virus corona atau COVID-19.

Photo by cottonbro from Pexels

Kepala Divisi Psikiatri Forensik dr Natalia Widiasih Raharjanti, mengatakan, keletihan secara mental, terutama di tengah pandemi COVID-19 bisa disebabkan banyak faktor. Kelelahan mental juga bisa dialami siapapun di masa pandemi.

"Ini bisa terjadi kepada siapapun. Apalagi, kalau kita tahu pandeminya sudah berlangsung 10 bulan lebih," kata Natalia dalam acara bincang-bincang bersama Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19.

Pandemic fatique, kata Natalia, merupakan respons yang sangat normal dan bisa terjadi kepada siapa saja. Terlebih, karena pandemi yang telah menimbulkan banyak masalah dan membatasi banyak aktivitas masyarakat itu telah berlangsung selama lebih dari 10 bulan.

Secara umum, orang-orang memang mengalami keletihan secara mental akibat pandemi yang berkepanjangan. Tetapi, lebih rinci lagi keletihan itu sebenarnya dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya adalah dari sudut pandang bagaimana seseorang itu memposisikan situasi bencana yang sedang ia hadapi.

"Jadi pandemic fatigue itu juga dipengaruhi bagaimana seseorang itu memosisikan situasi bencana yang sedang kita jalani. Apakah karena situasi yang berkepanjangan dan kita enggak tahu selesainya kapan. Selain itu, kok ternyata lingkungan kita, datanya makin lama makin cuek," katanya.

Pandangan seseorang terhadap situasi yang sedang ia hadapi dapat memengaruhi kondisi orang tersebut secara mental. Karena itu, bagaimana orang itu melihat situasi yang sedang terjadi dapat juga menyebabkan orang tersebut mengalami keletihan secara mental.

Selain karena pandangan tertentu yang menekan kesehatan mental. Banyaknya keterbatasan dan hilangnya pekerjaan atau kesempatan juga dapat memengaruhi kapasitas mental seseorang.

"Ini normal. Kalau kita kehilangan pekerjaan, kehilangan pendapatan, wajar kita menjadi stres, sehingga menyebabkan keletihan secara mental," katanya.

Namun demikian, meski berbagai keterbatasan dan kendala yang dihadapi masyarakat membuat mereka menjadi tertekan, bahkan menjadi letih secara mental, Natalia berharap agar masyarakat tetap bersabar menghadapi ujian pandemi dengan terus berdisiplin menerapkan protokol kesehatan. 

Selain dapat melindungi diri sendiri, mematuhi protokol kesehatan saat berinteraksi dengan orang lain juga dapat melindungi orang lain dari potensi penularan COVID-19.

"Untuk itu, kita semua harus saling menjaga, karena semua orang sebenarnya berperan. Bahkan, ketika bapak ibu walaupun di dalam rumah tetap pakai masker, menjaga jarak, maka 10 bulan yang kita lakukan itu sangat berperan melambatkan dan menurunkan jumlah angka kematian tanpa kita sadari," kata Natalia.

Dilansir Pandemic Talks, hingga saat ini jumlah kasus di Indonesia belum menurun. Di sisi lain, masyarakat Indonesia sudah mulai cuek dengan protokol kesehatan. Hal ini sebenarnya juga berkaitan dengan pola pikir. Anda malas karena sudah 10 bulan lebih ini nyatanya baik-baik saja meski hidup di tengah pandemi virus corona. Keyakinan itulah yang kadang bikin Anda lengah dan kecolongan. 

Kendati begitu, bukan berarti Anda terbebas dari risiko infeksi, apalagi jika tinggal di kota besar yang tinggi kasus penularan. Potensi untuk terpapar masih terus ada. Bahkan, orang yang terpapar dan meninggal makin dekat dengan inner circle Anda. Jadi tetap jaga protokol kesehatan secara mandiri.

SHARE