Peneliti Ungkap Bisakah Uang Membeli Kebahagiaan - Male Indonesia
Peneliti Ungkap Bisakah Uang Membeli Kebahagiaan
MALE ID | Works

Penelitian mengungkapkan pandangan baru tentang pertanyaan apakah uang dapat membeli kebahagiaan? Beberapa penelitian sebelumnya menemukan bahwa pendapatan yang lebih tinggi terkait dengan kepuasan hidup orang secara keseluruhan, tetapi bukan kebahagiaan seutuhnya.

Male IndonesiaPhoto:Pexels.com

Penelitian lain menyebutkan bahwa kekayaan menjelaskan jumlah yang sangat kecil (kurang dari 1 persen) dari variasi kebahagiaan seseorang. Kemudian penelitian lainnya menunjukkan bahwa hubungan antara uang dan kebahagiaan jauh lebih kuat.

Penelitian terbaru dalam jurnal Social Psychology and Personality Science menunjukkan bahwa uang dapat membeli setidaknya satu jenis kebahagiaan, atau sesuatu yang oleh para psikolog disebut sebagai “frekuensi kebahagiaan”.

“Kami menggunakan penelitian sebelumnya yang membedakan antara frekuensi dan intensitas kebahagiaan untuk menunjukkan bahwa pendapatan yang lebih tinggi secara konsisten terkait dengan seberapa sering individu mengalami kebahagiaan,” kata penulis, yang dipimpin Jon Jachimowicz dari sekolah Harvard Business.

“Kami menunjukkan bahwa hanya frekuensi kebahagiaan yang mendasari hubungan antara pendapatan dan kepuasan hidup,” jelasnya dilansir dari psychology today.

Dalam hal ini, para psikolog merekrut 1.290 orang dewasa AS untuk berpartisipasi dalam studi online singkat. Peserta diminta melaporkan pendapatan tahunan mereka. Serta rata-rata seberapa sering mereka mengalami emosi kebahagiaan (apakah sekitar sekali setiap bulan, sekitar sekali setiap minggu, sekitar sekali setiap hari, sekitar 2-3 kali setiap hari, atau lebih dari 3 kali setiap hari). Juga seberapa kuat setiap perasaan bahagia itu (apakah sangat rendah, rendah, sedang, tinggi, atau sangat tinggi).

Para ilmuwan menemukan, ternyata pendapatan terkait dengan frekuensi kebahagiaan, bukan intensitas kebahagiaan. Individu yang melaporkan pendapatan lebih tinggi mengalami kebahagiaan lebih sering daripada mereka yang berpenghasilan rendah.

Peneliti berteori bahwa hal itu mungkin ada hubungannya dengan kegiatan rekreasi yang mendorong kebahagiaan orang-orang tersebut. Misalnya, individu kaya terlibat dalam kegiatan yang lebih aktif seperti berdoa, bersosialisasi, rekreasi dan berolahraga.

Sedangkan individu tidak kaya terlibat dalam kegiatan rekreasi yang lebih pasif seperti menonton TV, tidur siang, dan istirahat. Ini mungkin salah satu alasan mengapa uang dikaitkan dengan peningkatan taraf kesejahteraan.

Alasan lain mungkin berkaitan dengan sejauh mana individu kaya terlibat dalam pengejaran pekerjaan yang menawarkan otonomi pribadinya.

Untuk menguji ide ini, para ilmuwan mengeksplorasi data dari sebuah survei di Amerika. Dalam survei ini, lebih dari 20.000 orang dewasa AS diminta untuk melaporkan semua yang mereka lakukan pada hari sebelum melakukan survei.

Peserta juga diminta mengevaluasi keadaan emosi mereka pada waktu yang berbeda sepanjang hari. Hal ini memungkinkan para peneliti untuk menghitung frekuensi kebahagiaan dan intensitas kebahagiaan lalu mencocokkan nilai-nilai tersebut dengan jenis aktivitas yang dilakukan peserta.

Peneliti menemukan bukti bahwa individu berpenghasilan rendah terlibat dalam pengejaran waktu luang yang lebih pasif, yang sebagian menjelaskan mengapa individu ini lebih jarang mengalami kebahagiaan.

Lalu peneliti menyimpulkan bahwa pendapatan dapat menghasilkan kebahagiaan bukan melalui pengalaman yang lebih membahagiakan, tetapi melalui pengalaman yang lebih banyak. Menghabiskan uang untuk suatu pengalaman atau benda yang selaras dengan nilai-nilai Anda bisa meningkatkan potensi kebahagiaan Anda.

Jadi, uang dapat membeli tingkat kepuasan hidup atau kebahagiaan tertentu, tergantung pada seberapa banyak kekayaan yang dimiliki dan bagaimana membelanjakannya. Yang terpenting, tarik napas dalam-dalam dan nikmatilah apa pun yang Anda belanjakan dengan uang Anda.

SHARE