Wonder Woman 1984, Harapan Membawa Kekacauan - Male Indonesia
REVIEW FILM
Wonder Woman 1984, Harapan Membawa Kekacauan
MALE ID | Review

Akhirnya kesempatan untuk menyaksikan film layar dibuka kembali. Setelah beberapa waktu, masyarakat Indonesia harus menerima penutupan sementara dari bioskop sebagai upaya pencegahan penyebaran Covid-19.

Male Indoensia

Sebetulnya, bioskop sudah beberapa minggu buka dengan kehadiran aturan baru yang sesuai dengan protokol kesehatan selama pandemi ini. Hanya saja, film yang ditawarkan belum menarik perhatian penikmat film.

Hingga akhirnya film Wonder Woman 1984 atau WW84 resmi dirilis di Indonesia pada tanggal 16 Desember 2020.     

Walau faktanya, kalau bukan karena pandemi. WW84 bisa rilis lebih awal. Akan tetapi dengan banyak pertimbangan, film ini akhirnya hadir sebagai hiburan penutup akhir tahun 2020.

Atmosfer Jadul yang Menarik Perhatian

Dibandingkan film sebelumnya, di mana Gal Gadot menjalankan perannya sebagai Diana Prince/Wonder Woman tampil di era perang dunia pertama. Kini, seperti judulnya yang mengangkat tahun 1984. WW84 menampilkan suasana dan atmosfer di tahun tersebut.

Dari pakaian hingga pop culture yang memang lekat di tahun 80an. Hanya saja, memang secara keseluruhan tidak ditampilkan secara kental. Seperti musik yang tidak terlalu dipertegas agar bisa memberikan kesan era –nya yang lebih kuat.

Male Indonesia

Menariknya, diawal film yang juga sempat diperlihatkan pada trailer resmi. Anda akan mendapatkan gambaran, bagaimana karakter Diana terbentuk sebagai sosok yang tangguh di umur yang masih sangat muda.  Menjadi latar belakang cerita yang mempertegas sosok Wonder Woman yang layak menjadi bagian dari anggota Justice League.

Tapi sebelum momen itu datang, Diana harus menghadapi ancaman baru yang bisa mewujudkan harapan indah tapi dengan konsekuensi yang buruk

Cerita yang Lebih Humanis

Diceritakan Diana yang  bekerja di museum, menjalani kehidupan normalnya dengan hati yang sepi. Karena belum bisa melupakan sosok Steve Travor yang diperankan oleh Chris Pine.

Akan tetapi, ada momen yang tidak diduga yaitu saat pertemanannya dengan karakter Barbara Minerva yang hadir sebagai karyawan baru di tempat Diana berkerja, yang sekaligus mempertemukannya dengan batu yang memiliki kemampuan unik, karena dapat mewujudkan keingian bagi siapa saja yang menyentuhnya.

Termasuk Diana yang secara tidak sengaja mewujudkan harapannnya untuk kembali bisa bertemu dengan Trevor, dan membuka kembali kebahagiaan baru dalam hidupnya.

Male Indonesia

Tapi, rasa suka cita dari Diana berlangsung semantara. Karena batu tersebut ternyata sudah diidamkan oleh Maxwell Lord, sosok pengusaha yang berada diambang kebangkrutan dan mencoba khasiat dari batu tersebut untuk mendapatkan kesuksesan. Sayangnya, Maxwell memiliki harapan yang terlalu serakah dan memilih untuk bisa memiliki kekuatan seperti batu tersebut seutuhnya.

Disinilah awal mula kehancuran terjadi. Saat Diana sebagai Wonder Woman harus berhadapan dengan kutukan akan harapan manusia yang memiliki risiko besar terhadap keseimbangan hidup yang bisa berdampak kekacauan.

Kesimpulan

Secara keseluruhan WW84 menjadi film yang tetap menjaga ketertarikanya seperti karya sebelumnya. Namun, jika Anda berharap akan melihat sebuah pertarungan besar melawan musuh yang tangguh. Maka WW84 justru memilih jalur yang berbeda.

Di bawah naungan sutradara Patty Jenkins, film ini cenderung lebih humanis dan memperlihatkan Wonder Woman melawan ketamakan manusia terhadap mimpi instan yang bisa dicapai, tanpa mempedulikan dampak buruk yang harus dibayar.

Walau memang memiliki dua antagonis yaitu Cheetah dan Maxwell Lord. Keduanya masih dirasakan kurang greget dalam memberikan perlawanan terhadap Wonder Woman.

Walau pun begitu, WW84 tetap menjadi film yang layak kamu saksikan sebagai penutup tahun 2020 yang manis.

 

SHARE