Pria Lebih Rentan Kena Nokturia, Apa Itu? - Male Indonesia
Pria Lebih Rentan Kena Nokturia, Apa Itu?
MALE ID | Sex & Health

Nokturia merupakan penyakit dimana seseorang berkemih (buang air kecil) selama periode tidur utamanya. Sayangnya banyak orang yang tidak menyadari bahwa kebiasaan ini merupakan penyakit yang membawa dampak buruk yang lumayan luas. Kondisi ini lebih sering dialami oleh pria dan risikonya bakal semakin meningkat seiring dengan bertambahnya usia.

Photo by Amaan Ali on Unsplash

Ketua Indonesian Society of Female and Functional Urology (INASFFU), Staf Medis Departemen Urologi FKUI-RSCM, dr. Harrina Erlianti Rahardjo, SpU (K), PhD mengatakan, nokturia adalah kondisi di mana seseorang sudah terbangun untuk berkemih untuk pertama kali. Usai berkemih mereka akan melanjutkan proses tidur atau keinginan untuk tidur.

“Berdasarkan angka kejadian, pria lebih berpotensi besar mengalami nokturia ketimbang wanita. Penelitian pada 1.555 subyek (828 laki-laki dan 727 perempuan) dari 7 kota di Indonesia dengan rata-rata usia 57 tahun (18-92 tahun) menunjukkan angka kejadian nokturia sebesar 61%,” terang dr. Harrina, dalam Virtual Press Conference "Jangan Diamkan Nokturia dan Nokturnal Enuresis".

dr. Harrina juga menjelaskan beberapa hal yang menyebabkan nokturia dapat terjadi. Semua hal yang terkait dengan nokturia bahkan mengindikasikan sejumlah penyakit kronis yang berbahaya. “Penyebab nokturia dikaitkan dengan saluran kemih, gangguan ginjal, hormonal, gangguan tidur (insomnia), penyakit jantung (kardiovaskular), dan diet,” tutur dr. Harrina.

"Diagnosis nokturia memerlukan pendekatan disiplin dan tatalaksananya meliputi intervensi gaya hidup, terapi fisik, obat dan terapi faktor atau penyakit penyebab,” tambah dr. Harrina

Lebih lanjut, dr. Harrina juga membagikan lima cara melakukan intervensi gaya hidup untuk mencegah nokturia.

1. Batasi konsumsi garam, protein, dan kalori serta pencegahan terhadap obesitas dan diabetes.

2. Membatasi asupan cairan di sore dan malam hari (terutama antara jam makan malam dan waktu tidur) serta membatasi asupan makanan atau minuman yang mengandung alkohol dan kafein.

3. Penyesuaian waktu konsumsi obat menjadi siang hari.

4. Meninggikan ekstremitas bawah setelah makan sampai waktu tidur dan menggunakan stoking kompresi untuk mengurangi edema perifer.

5. Diet dengan kalori seimbang.

SHARE