Empat Pilar Manajemen Diabetes di Era COVID-19 - Male Indonesia
Empat Pilar Manajemen Diabetes di Era COVID-19
MALE ID | Sex & Health

Selain orang lanjut usia, orang dengan diabetes sebagai penyakit penyerta lebih rentan mengalami pelemahan kondisi bila terinfeksi virus COVID-19. Diabetesi (penyandang diabetes) yang terinfeksi COVID-19 lebih sulit diobati karena fluktuasi level gula darah dan kemungkinan hadirnya komplikasi diabetes. 

Male IndonesiaPhoto by mali maeder from Pexels

    Sistem imunitas tubuh diabetesi yang telah terpengaruh, menjadikannya lebih sulit melawan virus atau membutuhkan waktu pemulihan lebih lama. Selain itu, ada kemungkinan virus dapat lebih kuat terutama dalam kondisi saat gula darah tinggi. 

Ketua PERSADIA Nasional Periode 2017-2020 dan konsultan endokrin metabolik RS DR. Soetomo Surabaya Prof. Dr. dr. Agung Pranoto, M. Kes., SpPD., K-EMD., FINASIM,mengakui segala aktivitas penanganan diabetes menjadi terhambat di tengah pandemi. "Saat ini semua progres jadi slowing down. Volume kegiatan PERSADIA cabang juga sangat menurun. Ada yang mau mencoba mengadakan kelas senam, tetapi saya sudah mengeluarkan edaran bahwa harus koordinasi dengan Dinas Kesehatan setempat," ucapnya.

 
 
Maka dari itu, penting bagi pasien diabetes untuk mencapai target pengendalian gula darah selama masa pandemi COVID-19 dengan menjalan empat pilar pengendalian diabetes.

Pertama, diabetesi harus menjalankan pola makan seimbang berupa asupan nutrisi diabetes yang tepat dengan kalori terukur. Diabetesi dianjurkan untuk  mengonsumsi makanan bergizi seimbang, mengandung karbohidrat baik yang memiliki indeks glikemik rendah, tinggi serat, vitamin, dan mineral untuk membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil, memberikan ketersediaan energi lebih lama, dan memberi rasa kenyang lebih lama.

Kedua, aktivitas fisik untuk dapat menjaga kebugaran tubuh serta terhindar dari berbagai penyakit. Diabetesi  perlu memilih olahraga yang bersifat aerobik, seperti jalan cepat, jogging, bersepeda, dan berenang. 

Ketiga, minum obat sesuai anjuran dokter untuk mengontrol kadar glukosa darah. Namun mengonsumsi obat harus dalam pengawasan dan atas resep dokter. Keempat, edukasi kepada masyarakat mengenai diabetes. 

Ketua PERSADIA Sumbagut Dr. H. Syafruddin Ritonga, mengatakan bahwa, masih ada 50 persen masyarakat yang belum paham diabetes karena kurangnya pengetahuan. Umumnya, mereka mengetahui diabetes setelah terdeteksi dan berkonsultasi dengan dokter. Tak jarang mereka baru sadar setelah terjadi komplikasi. 

"Padahal, bila diketahui sejak awal, kondisi komplikasi bisa dicegah. Selain itu, harus diakui juga kepedulian masyarakat tentang kesehatan masih minim. Di sisi lain, diabetesi banyak yang rendah diri karena merasa tidak memiliki harapan hidup dan menyusahkan orang lain," tutur Dr. Ritonga.

"Padahal, bila mau berusaha mengubah pola hidup semakin sehat, diabetesi dapat menjalani kehidupan normal. Selain itu, peran keluarga sangat penting dalam membantu dan menjaga motivasi diabetesi,“ tambahnya.  

Senada dengan itu, Ketua PERSADIA Semarang, Endang Harini, MM, mengatakan, anggota keluarga atau caregiverberperan membantu diabetesi agar menerapkan pola hidup sehat dan mengelola kadar gula darah agar terkontrol dengan baik. Anggota keluarga dapat mengajak atau menemani diabetesi berolahraga di masa pandemi ini dan mengikuti saran dokter. 

SHARE