Pensiun, Ini Filosofi Kepelatihan Marcello Lippi - Male Indonesia
Pensiun, Ini Filosofi Kepelatihan Marcello Lippi
MALE ID | Sport & Hobby

Marcello Lippi memutuskan untuk mengakhiri karirnya seagai pelatih setelah meninggalkan China pada 14 November 2019 lalu. Dia mengatakan tidak akan melatih lagi karena sudah cukup lama berada di pinggir lapangan.

Photo: Flickr upload bot/Wikipedia

Marcello Lippi memang telah menjadi pelatih sejak 1982 dengan melatih tim junior selepas ia pensiun di usia 34. “Saya benar-benar sudah selesai dengan pekerjaan melatih. Itu benar, sudah cukup. Mungkin saya akan lebih berguna di posisi lain, lihat saja nanti. Tapi, tidak akan ada kegiatan sampai musim semi nanti,” ucap Lippi, dilansir, skysport.

Mengutip dari berbagai sumber, lahir di Viareggio, di Tuscany utara, Lippi memulai karir profesionalnya sebagai bek pada 1969. Dia menghabiskan sebagian besar tahun bermainnya dengan Sampdoria, di mana dia bermain secara berurutan dari 1969 hingga 1978, kecuali satu tahun dengan status pinjaman di Savona. 

Pada tahun 1979, ia bergabung Pistoiese, menjadi bagian dari Arancioni promosi's untuk Serie A. Dia menyelesaikan karir bermainnya dengan Lucchese. Meski belum pernah bermain untuk Italia di level senior, Lippi mendapatkan pengalaman bermain di papan atas negaranya sebagai bek tengah untuk Sampdoria. 

Karier Kepelatihan
Kenaikannya ke puncak pohon kepelatihan juga dimulai di klub Genoa, di mana ia memulai sebagai pelatih tim muda. Setelah berbagai tugas di divisi bawah Italia, ia menjadi pelatih kepala di Serie A pada tahun 1989 bersama Cesena.

Lippi kemudian pindah ke Lucchese dan Atalanta. Titik balik bagi Lippi terjadi pada musim 1993-94 saat ia membawa Napoli meraih tempat di Piala UEFA. Pencapaian itu semakin luar biasa mengingat gejolak keuangan klub yang masih berjaya di masa lalu yang terinspirasi oleh Diego Maradona.

Pemilik nama lengkap Marcello Romeo Lippi itu juga pernah dua kali menjadi pelatih Italia (2004-2006 dan 2008-2010). Lippi lalu direkrut Guangzhou Evergrande pada 2014, dan kemudian diminta untuk melatih China sebanyak dua periode mulai 2016-2019 dan 2019.

Selama karier kepelatihannya, Lippi hanya membukukan sukses bersama Juventus dimana mendulang 13 gelar, termasuk lima Scudetto dan satu trofi Liga Champions. Selain Juventus, pria yang dahulu terkenal selalu memegang cerutu saat mendampingi klubnya bertanding itu juga sukses memberikan trofi juara untuk Inter Milan. Dia juga membantu Guangzhou Evergrande meraih enam titel.

Filosofi Kepelatihan Lippi
Prestasi terbesarnya adalah memenangi Piala Dunia 2006 dengan Italia. Belum lagi sejumlah penghargaan individu seperti Pelatih Serie A Terbaik pada 1997, 1998 dan 2003, serta masuk Italian Football Hall of Fame pada 2011.

Dalam bukunya The Game of Ideas: Thoughts and Passions from Campo Edge (A Game of Ideas: Thoughts and Passions from the Sidelines), Lippi menguraikan filosofi kepelatihannya. Dia menekankan pentingnya semangat dan persatuan tim. Dia menyamakan tim yang terintegrasi secara psikologis dengan fungsi keluarga yang sehat secara psikologis. 

Pada aspek strategi pembinaan, ia menekankan pentingnya hubungan timbal balik antar pemain. Semua pemain harus mengikuti rencana yang sama dan bermain untuk satu sama lain, "bukan" untuk diri mereka sendiri. Lippi berpendapat bahwa "sekelompok pemain terbaik tidak selalu menjadi tim terbaik." Yang lebih penting, menurutnya, adalah bahwa rencana atau formasi taktis adalah salah satu yang memungkinkan setiap pemain untuk memaksimalkan (1) kegunaannya untuk rekan satu timnya dan (2) ekspresi potensi penuhnya.

Pada 2013, James Horncastle yang menulis untuk ESPN menganggap Lippi sebagai salah satu pelatih terbaik dan tersukses sepanjang masa. Alasannya, Lippi memiliki gaya melatih dan kecakapan taktis. Bahkan saat melatih Guangzhou Evergrande, ia dinobatkan sebagai pelatih dengan gaji tertinggi ketiga, dibawah Jose Mourinho dan Carlo Ancelotti.

SHARE