Waspadai Sebab dan Gejala Kanker Tenggorokan - Male Indonesia
Waspadai Sebab dan Gejala Kanker Tenggorokan
MALE ID | Sex & Health

Salah satu penyakit yang patut diwaspadai adalah kanker tenggorokan. Kanker tenggorokan mencakup pada beberapa jenis kanker yang terjadi di lokasi berbeda di kepala dan leher, seperti yang dialami gitaris Eddie Van Halen belum lama ini.

Photo by Nhia Moua on Unsplash

Seperti dalam laman Fox News, menurut para dokter di Anderson Cancer Center, lebih dari 30 ribu orang di AS menerima diagnosis kanker tenggorokan pada 2018. Kanker tenggorokan meliputi dua kanker, yaitu kanker laring dan kanker hipofaring.

Baik kanker laring dan hipofaring dimulai di bagian bawah tenggorokan. Menurut American Cancer Society, pasien yang didiagnosis dengan kanker laring memiliki arti bahwa penyakit tersebut memengaruhi area kotak suara.

Termasuk di antaranya supraglotis yang terletak di atas pita suara. Demikian juga dengan glotis yang berisi pita suara serta subglotis yang berada di bawah pita suara.

Diagnosis kanker hipofaring berarti penyakit ini terdeteksi di daerah yang terletak di samping laring dan dianggap sebagai pintu masuk ke esofagus. Hampir semua kanker yang terletak di laring atau hipofaring berkembang dari sel yang disebut sel skuamosa.

Gejala dan Sebab Kanker Tenggorokan
Gejala penyakit dapat muncul adalah suara serak atau perubahan suara, kesulitan menelan, perasaan ada sesuatu di tenggorokan, sakit tenggorokan yang terus-menerus. Selain itu, menurut para dokter di Pusat Kanker Anderson Cancer, sakit telinga, benjolan di leher, batuk, masalah pernapasan atau penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan, juga menjadi gejala dari kanker tenggorokan.

Orang dengan riwayat merokok atau terpapar tembakau berisiko lebih tinggi terkena kanker kepala dan leher. Hal tersebut juga ditemukan pada mereka yang mengonsumsi alkohol sedang hingga berat.

Sementara itu, orang yang mengonsumsi baik tembakau maupun alkohol berada pada risiko tertinggi. Gizi yang buruk juga merupakan faktor risiko, seperti pada diagnosis HPV.

Selain itu, sindrom genetik juga dapat meningkatkan risiko kanker tenggorokan. Faktor lainnya adalah paparan di tempat kerja terhadap debu kayu, asap cat, dan bahan kimia tertentu.

Jenis kelamin juga tampaknya berperan. Kanker laring dan hipofaring hampir empat kali lebih sering terjadi pada pria daripada wanita.

Hal itu dimungkinkan disebabkan oleh faktor gaya hidup yang tak sehat, seperti merokok dan minum alkohol. Menurut American Cancer Society, lebih dari setengah pasien dengan kanker ini berusia 65 tahun ke atas pada saat didiagnosis.

Perawatan untuk kanker ini biasanya tergantung pada tahap di mana kanker ditemukan dan lokasi di mana mereka muncul. Pembedahan, radiasi, kemoterapi, terapi bertarget, dan imunoterapi adalah semua pilihan untuk populasi pasien ini dan harus didiskusikan dengan spesialis.

SHARE