Selingkuh, Perlukah Diakui atau Ditutupi? - Male Indonesia
Selingkuh, Perlukah Diakui atau Ditutupi?
MALE ID | Relationships

Sedikitnya 25 persen pria dan 15 persen wanita pernah berselingkuh, menurut data Psychology Today, edisi 2005. Kendati penelitian Atkins yang diterbitkan Journal of Consulting and Clinical Psychology masih terlalu dini untuk menarik kesimpulan secara lebih besar, bisa dibilang penelitian inilah yang pertama kali menyebutkan pentingnya pengakuan dari perselingkuhan. 

Photo by Hannah Busing on Unsplash

Psikiater asal Atlanta Frank Pittman, yang juga menulis buku Private Lies, punya pendapat sendiri yang tak terpengaruh hasil penelitian Atkins. "Sangatlah sulit untuk menyelamatkan hubungan di saat satu pihak berusaha menyembunyikan perselingkuhannya di bawah tempat tidur," kata Pittman. 

Si pelaku selingkuh tak bisa ikut serta sepenuhnya dalam menyelamatkan hubungan selagi merahasiakan informasi yang ia yakini berbahaya jika ketahuan pasangannya. Pittman mengungkapkan beberapa pengecualian pada aturan pengakuan punya selingkuh. Tapi cenderung untuk tidak memberitahukannya.

 
 

Pittman skeptis terhadap orang yang memilih untuk tidak merasa perlu mengetahui perselingkuhan pasangannya. Mungkin maksudnya untuk tidak tersakiti akibat perbuatan pasangannya, tetapi mereka kehilangan kesempatan untuk membuka diskusi secara terbuka. 

Psikolog Janis A. Spring, penulis After the Affair, juga mendebat apa yang dikemukakan Atkins. Sebagian orang memang sebaiknya tidak tahu apakah pasangannya (pernah) selingkuh. Pengakuan mungkin saja memicu perasaan tidak aman dalam pasangan yang pernah punya masalah emosional di masa lalu.

Menurut Spring, keuntungan dari pengakuan yang jujur ini hasilnya sangat bervariasi pada beberapa pasangan. Dari pengalamannya sebagai psikolog yang mendalami soal perkawinan, Spring banyak mengetahui pasangan bahagia yang salah satunya merahasiakan apa yang pernah terjadi. "Apa yang paling penting adalah pasangan yang berselingkuh menyatakan alasan mengapa ia melakukannya," tegas Spring.

Namun sepandai-pandainya bangkai ditutupi, bau busuk suatu saat akan terungkap. Demikian pula halnya dengan perselingkuhan. Sebagian terapis seperti psikolog Shirley Glass, pionir yang pertama kali meneliti soal perselingkuhan, meyakini bahwa hubungan akan lebih baik setelah pengakuan yang jujur secara sukarela ketimbang setelah tertangkap basah melakukan perselingkuhan. 

Jadi lebih baik jujur mengakuinya ketimbang ketahuan lebih dulu. Pada sebagian kasus lain, ada kemungkinan munculnya masalah medis. Perselingkuhan bisa menempatkan pasangan Anda ke dalam bahaya penyakit seksual menular.

Kapan sebenernya pasangan yang berselingkuh mengakui perbuatannya? Para pakar menganjurkan untuk berdiskusi secara terbuka dan dengan kepala dingin. Memang tidak mudah, tapi layak dilakukan mengingat bisa menyelamatkan hubungan Anda.

SHARE