Perubahan Musik Kotak Setelah 16 Tahun Berkarya - Male Indonesia
Perubahan Musik Kotak Setelah 16 Tahun Berkarya
MALE ID | News

Menandai 16 tahun kebersamaan dengan perjalanan bongkar pasang personel, Kotak Band merilis album Identitas. Album baru yang dirilis pada Jumat (26/9/2020) dengan nama "Identitas" itu, mengenang suka duka perjalanan. Masing-masing dari mereka memiliki kesan dan kenangan bersama Kotak.

Photo: Sopian/doc. Male Indonesia

Chua sebagai bassist dari band Kotak mengaku ingin bisa terus bersama Kotak hingga ia tak lagi sanggup bermusik. "Dari aku udah 16 tahun pastinya pingin 17, 18, 19 sampai 30 sampai enggak bisa bermusik lagilah," kata Chua dalam jumpa pers virtual.

Sedikit berbeda denga Chua, Tantri sang vokalis beraharap bisa terus bersama band Kotak hingga nantinya anak-anak mereka bisa membentuk Kotak Junior. "Kalau aku berharap siapa tau ada Kotak junior, kalau aku udah nggak bisa nyanyi Beraksi, anak aku bisa gantiin aku," terang Tantri.

Sementara untuk Cella, gitaris band Kotak mengatakan ia ingin suatu hari nanti merubah nama band mereka menjaxi "Kotal Sampai Tua" yang menandakan ketiganya tetap solid sampai tua. "Aku mau nge-band sampai tua sampai nanti nama band kita jadi Kotak Sampai Tua," kata Cella.

Perubahan Musik Kotak
Kotak mengakui musik dan karyanya terus berubah, terlebih setelah masing-masing personel memiliki pasangan jangka panjang. Menurut para personil kotak, perubahan demikian sangat wajar, bahkan perlu. "Perubahan lirik ada banget, bisa dilihat dari lagu-lagu kita di album Identitas, banyak tentang isu sosial dan apa yang orang rasakan. Lagu-lagunya lebih 'dalam'," ungkap Chua.

Menurut Chua, Kotak memang sengaja mengusung hal berbeda setiap mengeluarkan album. Keputusan itu dianggapnya turut berkontribusi pada anggapan bahwa musik Kotak tidak lagi sama dengan dahulu. Sama halnya saat menggarap Identitas yang merupakan album terbaru mereka. Kotak berupaya mengikuti perkembangan zaman, dan memasukkan pula elemen dari musik yang tengah digandrungi audiens.

Kotak pun tidak ragu bereksperimen. Salah satunya, Chua menampilkan aksi nge-rap pada salah satu lagu, "Teman Palsu". Meski di album sebelumnya pernah ada aksi serupa, tapi menurut dia inovasi itu tetap menyenangkan. "Sebenarnya, jujur tadinya mau kolab sama A, B, C. Udah siap nama-nama rapper terkenal, selebgram jago nge-rap. Cuma anak-anak bilang, ngapain sih keluar budget lagi, udah lah kita-kita aja," kata Chua lagi.

Cella sang gitaris sepakat dengan perubahan yang disampaikan Chua. Dia, Chua, dan Tantri, ingin terus berkarya dan mengembangkan diri, tidak mau hanya terhenti pada satu titik. Ada idealisme dan perenungan yang mereka usung.  "Kalau ada yang tanya, Kotak tiap album kok enggak kayak kemarin-kemarin lagi. Kalau mau dengar yang sama mending dengar lagi yang kemarin. Kalau mau Kotak berkembang, memang musik yang digarap berubah," tutur Cella.

Libatkan Cak Nun
Ada satu sosok istimewa yang diajak Kotak berkolaborasi dalam tembang "Manusia Manusiawi". Lagu ini merupakan satu dari total 10 lagu di dalam album baru meraka. Sosok itu adalah Emha Ainun Nadjib, yang biasa disapa dengan panggilan Cak Nun. 

Kotak menceritakan awal mula para personel terbersit untuk mengajak Cak Nun berkolaborasi. "Kolaborasi dengan musisi sudah beberapa kali, lalu mikir yang epik siapa ya. Cella nemu nada untuk ambience lagu ini dan saat mau masukin lirik, kita ngebayangin kayaknya perlu sentuhan beda, harus ada sesuatu yang menohok," kata Tantri. 

Pada saat yang sama, mereka bertiga memang sedang suka menyimak karya-karya Cak Nun. Berbagai upaya untuk menjangkau Cak Nun pun segera dilakukan. Kotak sempat merasa pesimistis, tetapi Cak Nun akhirnya bersedia. 

Kotak lega ketika Cak Nun mendengar lagu "Manusia Manusiawi" dan menyatakan mau berkolaborasi. Semua proses kolaborasi antara ketiga personel Kotak dengan Cak Nun dilakukan secara jarak jauh karena kondisi pandemi COVID-19. Kotak pun sempat merasa harap-harap cemas ketika menanti datangnya materi dari Cak Nun. 

Setelah menunggu beberapa bulan, materi 30 detik dari Cak Nun pun datang dan segera dimasukkan ke dalam lagu. "Cuma 30 detik, tapi statement itu kayak menjadi jawaban lagu "Manusia Manusiawi". Menjadi manusia seharusnya memang seperti itu," ucap Tantri. 

Ketika menanti kedatangan materi itu, Cella sempat iseng memasukkan kata-kata acak Cak Nun dari YouTube pada bagian interlude gitar. Meski dengan tema berbeda saja, sudah membuat mereka merinding.  "Apalagi waktu mendengar aslinya. Masuk mixing, air mata keluar sendiri. Lagu ini energinya beda, kayak dibawa ke dimensi lain," kata Cella tentang lagu "Manusia Manusiawi" yang bicara tentang kemanusiaan dan toleransi. 

SHARE