Menilik Masa Depan Industri Pertunjukan Musik - Male Indonesia
Menilik Masa Depan Industri Pertunjukan Musik
MALE ID | News

Saat ditetapkannya virus corona sebagai pandemi di Indonesia, seni pertujukan mengalami dampaknya. Hal ini tentu untuk mengurangi penyebaran virus itu sendiri. Hingga kini, belum ada kepastian kapan virus ini akan berakhir. Lalu pertanyaannya, bagaimana nasib dunia industri pertunjukan musik selanjutnya? 

Photo: Sopian/doc, Male Indonesia

Menurut World Economic Forum, industri musik global memiliki dua jalur keuntungan utama. Pertama melalui pertunjukan live atau offline yang menghasilkan 50% dari total keuntungan dan berasal dari jumlah penjualan tiket. Sementara kedua dari rekaman, yang termasuk pendapatan dari streaming, digital download, penjualan album fisik, dan pendapatan sinkronisasi (lisensi musik untuk games, TV, dan iklan).

Koalisi Seni Indonesia pun mengatakan di bulan Maret 2020, terdapat sekitar 40 konser, tur, serta festival musik yang dibatalkan atau ditunda. Kiki Ucup, Strategic Planner demajors dan Program Director Synchronize Festival mengatakan, bahwa pandemi ini tidak akan mengubah wajah industri pertunjukan musik sepenuhnya, tapi justru membuat para pelakunya banyak mencoba berbagai hal baru yang memungkinkan penyelarasan dengan dunia digital dan tentunya tetap harus sejalan dengan protokol yang ditetapkan pemerintah.

Hal ini pun diamini oleh pembicara lainnya, Armand Maulana, musisi senior dan juga vokalis band GIGI. Menurutnya, dia dan teman-teman musisi lainnya, harus beradaptasi agar industri musik ini tetap bisa berjalan, tapi dengan tetap mentaati protokol yang harus dijalankan. Inovasi menjadi suatu keharusan agar musisi bisa survive. 

"Digital platform menjadi sarana baru yang banyak digunakan musisi untuk terhubung dengan para penikmat musiknya, sekaligus menjadi saluran bagi mereka untuk berkarya," kata Armand dalam diskusi “Inovasi Dunia Pertunjukan Musik di New Normal” yang digelar oleh BaBe (platform Baca Berita) belum lama ini. 

Bens Leo, selaku pengamat musik, menambahkan bahwa digitalisasi dan inovasi menjadi suatu keharusan yang akan dialami oleh industri musik dan juga pertunjukan musik. Pandemi ini di sisi lain juga menghasilkan banyak inovasi baru, seperti konser musik virtual “Konser 7 Ruang” yang dimeriahkan banyak penyanyi ternama, ada juga lagu “Lathi” dari grup Weird Genius yang diproduksi di tengah pandemi dan mendapatkan banyak views di platform digital. 

"Justru di tengah kondisi ini para pemain industri musik semakin tertantang untuk lebih kreatif dan inovatif,” tutur Bens Leo.

Menurut data Digital Report 2020 dari Hootsuite, jumlah pengguna internet di Indonesia meningkat sekitar 17%. Konsumsi internet pun meningkat selama pandemi ini jika melihat dari data beberapa penyedia layanan telekomunikasi. 

Dari jumlah 175,4 juta pengguna internet di Indonesia, terdapat lebih dari 80% yang melakukan streaming musik, dan 99% yang menonton konten video online. Merujuk pada data ini, kolaborasi antara industri musik dan platform digital pun terasa semakin lumrah. 

SHARE