Kiat Jadi Pengusaha Bermental Baja di Masa Pandemi - Male Indonesia
Kiat Jadi Pengusaha Bermental Baja di Masa Pandemi
MALE ID | Works

Keberadaan ekosistem wirausaha sangatlah penting untuk mengembangkan suatu bisnis. Sesuai definisinya, ekosistem yang berarti sistem ekologi dapat terbentuk dengan baik berkat adanya hubungan timbal balik yang menguntungkan dan tak terpisahkan satu sama lain. 

Photo by bruce mars on Unsplash

Pada dunia kewirausahaan, ekosistem ini terbentuk dari inisiatif para wirausaha yang memiliki tujuan atau visi mengembangkan bisnis melalui proses yang tidak instan. Mulai dari proses penciptaan ide bisnis, jatuh bangun memulai bisnis, hingga menumbuhkan bisnis itu sendiri. 

Peranan dukungan tersebut bisa berbentuk investasi, jaringan atau relasi, bantuan materi, hingga bantuan non-materi seperti konsultasi atau mentorship.

Dalam webinar “Entrepreneurship Focusing to Build the Entrepreneurship Ecosystem in Indonesia & Building Digital Business from Zero” yang diselenggarakan oleh Diplomat Success Challenge (DSC), pada Agustus 2020 kemarin, Kevin Osmond menyampaikan bahwa menjadi wirausaha bukanlah hal yang mudah. Sebelum berada di posisi sekarang, Kevin telah merintis perjalanan wirausahanya selama 15 tahun untuk menemukan dan membangun platform digital yang tepat, yakni Printerous.

“Jika ada yang memiliki cita-cita sebagai entrepreneur, maka ungkapan itu kurang tepat. Menjadi entrepreneur atau wirausaha bukanlah jabatan pekerjaan semata, tapi lebih merupakan mindset untuk menjadi kreatif, proaktif dan inovatif (entreprenuerial spirit), dan ini semua harus melewati proses,” ujar Kevin.

Printerous sendiri merupakan startup yang mengadopsi model platform based yang dirintis Kevin sejak tahun 2012. Bergerak di industri percetakan bukannya tanpa alasan. Kevin menekankan pentingnya riset dan mencari fakta seputar industri yang ingin dimasuki oleh seorang wirausahawan.

Misalnya, sejak awal Kevin telah menemukan fakta bahwa dalam 5 tahun terakhir Indonesia masuk ke dalam 5 pasar percetakan terbesar di Asia dengan business size mencapai USD 14,5 triliun. Fakta ini didukung dengan dengan keberadaan lebih dari 5.000 kios percetakan di Indonesia, namun mereka masih kekurangan peralatan yang memadai. 

Sedangkan permintaan percetakan terus meningkat dengan tumbuhnya lebih dari 61 juta UMKM di Indonesia, didukung dengan berkembangnya bermacam e-Commerce dan marketplace, serta jasa antar makanan.

Lain halnya dengan Jourdan Kamal yang telah menjajal berbagai macam profesi sebelum memutuskan menjadi seorang wirausahawan. Menurut Jourdan, yang terpenting bagi seorang wirausahawan sebelum memulai bisnis adalah mengembangkan skill dan menemukan minat yang tepat dari kemampuan tersebut. 

Platform MauBelajarApa yang dirintis Jourdan sejak tahun 2014 pada dasarnya adalah sebuah marketplace yang menyediakan layanan workshop dalam bentuk kelas-kelas non-akademik. MauBelajarApa memiliki belasan kategori mulai dari kelas memasak, art & craft hingga kelas fotografi.

“Di era digital sekarang, belajar tidak hanya bisa didapat dari sekolah. Kesuksesan pun tidak hanya datang dari gelar sarjana. Jika tidak punya kesempatan untuk lulus kuliah atau belajar di sekolah yang tepat, calon wirausahawan harus memiliki kemampuan sebagai persiapan untuk merintis bisnisnya”, ungkap Jourdan.

Faktanya secara statistik, 1 dari 10 wirausaha menemui kegagalan. Dari 10% wirausaha yang bertahan tersebut, hanya sekitar 20% yang berhasil sukses lebih dari 2 tahun. Fakta ini semakin menekankan pentingnya proses mengasah kemampuan sebelum wirausahawan terjun mengelola bisnisnya agar dapat meraih kesempatan yang bisa datang kapan saja.

“Ada ungkapan ‘Dream Big, Start Small’. Jangan takut untuk berproses. Memiliki visi besar itu penting, tetapi semua tetap harus dimulai dari hal kecil. Nikmatilah prosesnya, jatuh bangunnya merintis usaha, hingga menemukan kesuksesan yang diinginkan”, tambah Kevin.

Menjadi Wirausaha Bermental Baja
Bagi Jourdan, sukses bukanlah tujuan, namun perjalanan panjang yang tidak bisa dihitung dengan penjualan ataupun materi. Selama ada progress dan improvement itulah arti kesuksesan yang sebenarnya.

“Dalam masa pandemi ini siapa yang akan sukses? Jawabannya adalah ‘orang yang siap’. Terutama untuk para wirausaha, jangan sampai kita kalah dari keadaan ini. Teruslah eksplorasi diri, dan Anda pasti bisa membangun apapun dengan kerja keras”, ungkap Jourdan.

Senada dengan Jourdan, Kevin juga membagikan beberapa kiat yang kerap memotivasi dirinya sendiri. Di antaranya adalah jangan terus berpaku di tahapan mencari ide, karena yang sulit adalah rencana konkrit dan eksekusinya. Jadi apapun ide yang dimiliki, yang terpenting adalah eksekusi dahulu ide tersebut menjadi aksi nyata. 

Selain itu, untuk berkembang jangan pernah takut akan kegagalan. Sebagai wirausahawan, masalah dan tantangan pasti datang, dan justru dari kegagalan inilah kita bisa belajar dan membuat bisnis kita lebih sukses. Maka dari itu, wirausahawan juga tidak boleh cepat puas dan harus memiliki growth mindset.

Sebagai pemimpin perusahaan, bisnis Anda tidak akan berkembang jika kita juga tidak mengembangkan diri. Untuk itu, jangan pernah terlena akan kesuksesan sementara dan ingatlah untuk keluar dari zona nyaman.

Yang terakhir dan terpenting, janganlah menjadi ‘The Lonely Entrepreneur’. Pasalnya saat kita ada di pucuk posisi perusahaan, pasti banyak persoalan yang tidak bisa dibagikan kepada tim, namun cobalah untuk tidak merasa kesepian. 

Cara mengatasinya antara lain bergabunglah dengan komunitas wirausaha sehingga memiliki jaringan ekosistem wirausaha yang tepat, atau gandenglah mentor sebagai tempat berbagi dan saling mendukung.
 

SHARE