Impotensi Bisa Diakibatkan Karena Saraf Terjepit - Male Indonesia
Impotensi Bisa Diakibatkan Karena Saraf Terjepit
MALE ID | Sex & Health

Semakin matang usia seseorang, maka semakin banyak risiko penyakit yang datang. Baik itu karena organ dalam yang sudah tidak lagi bekerja dengan baik, ataupun karena kondisi fisik yang sudah tidak lagi prima.

Photo by Dainis Graveris on Unsplash

Salah satu penyakit yang banyak dialami adalah saraf terjepit. Saraf terjepit atau yang disebut juga sebagai Herniated Nucleus Pulposus (HNP), umumnya terjadi pada seluruh ruas tulang belakang mencakup leher, punggung, pinggang hingga tulang ekor.

Menurut dokter spesialis bedah orthopedi & traumatologi di RS Pondok Indah-Puri Indah Muki Partono, daerah sakit tergantung lokasi terjadinya penjepitan. Jika terjadi di leher, maka penderita akan mengalami migrain atau sakit hingga bahu disertai rasa kesemutan dan rasa panas.

 
 

Sementara jika penjepitan di tulang ekor, maka penderita akan merasa sakit seperti otot ketarik pada bagian paha atau betis, kesemutan hingga kelumpuhan. "Jika penjepitan di daerah pinggang akan terasa nyeri dari pinggang turun ke bawah menjalar ke belakang paha, betis, disertai rasa kesemutan dan rasa panas," kata dia dalam webinar.

Kelumpuhan yang terjadi bukan selalu tidak bisa berjalan atau kaki tidak bergerak sama sekali, tetapi terjadi penurunan pada sistem gerak. Jika sudah penurunan kekuatan motorik, misalnya tiga dari lima, bisa dikatakan mengalami kelumpuhan sebagian.

Biasanya, otot dengan saraf terjepit cenderung melemah dari waktu ke waktu, sehingga menyebabkan penderita mudah tersandung, tidak kuat mengangkat, memegang barang atau sesuatu. Selain kesemutan dan rasa panas, pada pria ada risiko HNP menyebabkan impotensi hingga kemandulan apabila terjadi pada torakal.

Faktor risiko seseorang terkena HNP antara lain berat badan berlebih atau obesitas, pekerjaan, cedera, gaya hidup, genetika, aktivitas seperti menyetir pada jangka waktu yang lama, merokok, postur tubuh dan usia lanjut. "Pekerjaan yang kaitannya dengan mengangkat berat, atau kelainan pada bentuk tulang belakang itu sendiri," ujar Muki.

Muki mengatakan, saat ini pengobatan HNP salah satunya melalui tindakan operasi tanpa sayatan atau minimal invasif spine surgery, yakni memasukkan jarum ke kulit yang dilanjutkan menusukkan jarum ke kulit yang ditujukan ke disc dan diberikan energi dari laser.

Disc yakni cakram jaringan tulang rawan di antara ruas tulang punggung yang berfungsi sebagai peredam kejut. Menurut dia, tindakan operasi ini tergolong aman karena tidak memerlukan pembiusan total melainkan lokal di tempat jarum yang ditusukkan.

Penderita HNP biasanya disarankan menjalani tindakan ini, yakni jika tidak ada respons sampai enam minggu pengobatan konservatif, HNP stadium satu, belum terjadi kelainan neurologis yang berarti.

"Awalnya dengan medikamentosa, evaluasi kembali dua minggu kalau terjadi perbaikan, dinyatakan sembuh secara keluhan, tetapi bantalan tidak mengalami perubahan. Kadang dikombinasi dengan fisioterapi. Kalau semua cara itu dilakukan tidak berhasil, biasanya kami beri tindakan operatif," kata Muki.

SHARE