William James Sidis Si Jenius yang Terasingkan - Male Indonesia
William James Sidis Si Jenius yang Terasingkan
MALE ID | Story

Terlahir sebagai orang jenius adalah anugerah. Apalagi kejeniusannya dapat menciptakan suatu inovasi yang dapat dipakai masyarakat dunia, yang akhirnya dapat dikenakan sepanjang masa.

Photo: JonatasM/Wikipedia

Bagi sebagian orang, Albert Einstein adalah salah satu orang paling jenius dan paling dikenal. Tapi ini bukan tentang dia. Tapi tentang seorang yang jenius lain namun mati di pengasingannya. Ia adalah William James Sidis.

Nama William James Sidis memang kurang begitu dikenal banyak orang. Tapi dia adalah salah satu orang paling jenius, karena memiliki IQ mencapai 260. Dia adalah anak ajaib dan ahli matematika yang luar biasa. William juga ahli dari berbagai macam dialek dan diberkati bakat menulis.

William lahir di kota New York,AS, pada 1898. Anak dari Boris Sidis, seorang psikolog teladan dengan 4 gelar dari Harvard. Kejeniusan yang dimiliki William tak lain diturunkan dari orang tuanya. Sejak kecil, ia punya bakat yang sangat brilian, bahkan melampaui orang biasa.

Ketika berusia 18 bulan, dia disebut sudah bisa membaca The New York Times. Saat menginjak umur 8 tahun, dia mempelajari secara otodidak bahasa Latin, Yunani, Perancis, Rusia, Jerman, Ibrani, Turki, dan Armenia. Selain 8 bahasa yang dipelajari, dia juga menciptakan bahasanya sendiri yang disebut sebagai “Vendergood”.

Karena kepintarannya, ayahnya mencoba mendaftarkan William ke Harvard ketika dia berumur 9 tahun. 2 tahun kemudian, institut menerima William sebagai orang termuda yang terdaftar di Harvard pada tahun 1909.

Pada 1910 kemampuan matematika William sangat menonjol dan dia mulai mengajari professornya sendiri, sehingga dia mendapatkan gelar sebagai “Child Prodigy” atau si anak ajaib. Dia menyelesaikan pendidikannya sebagai sarjana seni pada umur 16 tahun.

Ketenaran bisa sangat melelahkan, terutama ketika terekspos di usia yang sangat muda. Singkatnya setelah William menyelesaikan pendidikannya, William memberitahukan kepada reporter bahwa dia menginginkan kehidupan yang “Sempurna”, menurut William pengasingan adalah salah satunya. Dia juga mengatakan bahwa dia tidak akan pernah menikah karena wanita tidak membuatnya tertarik.

Selain tidak menginginkan ketenaran, keputusannya untuk mengasingkan diri diduga ada kaitannya dengan masa kecil William yang cukup tertekan. Ketika William kecil, pemerintah Amerika Serikat bertekad mengubah anak-anak di negaranya menjadi sebuah ‘keajaiban’ lewat pendidikan.

Saat itu, sang ayah, Boris, menginginkan anaknya menjadi seorang yang sangat bersinar. Untuk mencapai hal itu, ia lantas menerapkan pendekatan psikologis dalam membesarkan William. William kecil memang menikmati cara belajar yang digagas ayahnya. Namun, pemikiran itu berubah saat ia menginjak dewasa dan menyalahkan ayahnya. Bahkan saat Boris meninggal pada 1923, William dilaporkan menolak menghadiri pemakamannya.

Hukuman dan Kematian William
Seperti kebanyakan jenius lainnya, William tetap menjaga identitasnya agar tidak diketahui banyak orang. Dia bekerja sebagai pemateri dengan bayaran rendah. Akan tetapi, dia tetap saja dikenali oleh orang-orang hingga membuatnya tidak punya pilihan lain untuk mengganti pekerjaannya.

Di tahun 1924, reporter menemukan bahwa dia hanya menghasilkan uang sebesar 23 dolar AS atau setara Rp 399 ribu per minggu. Setelah itu William menulis beberapa buku menggunakan nama samaran yang berbeda-beda.

Dia adalah seorang sosialis yang sangat menentang terhadap Perang Dunia I. Faktanya, William ditangkap pada 1919 dikarenakan demonstrasi yang berujung ricuh di Boston di mana ia dijatuhi hukuman 18 bulan penjara. Orang tuanya lantas mendapati William, dan mengeluarkan dia dari penjara. William kemudian dikurung di sanatorium selama 2 tahun.

William menghabiskan hidup dengan miskin dan kesepian. Terasingkan dari keluarga. Ia bekerja sebagai operator mesin dan mengerjakan pekerjaan kecil untuk memenuhi kebutuhan hidup. Orang yang bisa mengubah dunia itu akhirnya mati di usia 46 tahun karena menderita pendarahan otak di tahun 1944. Yang menarik, ayahnya pun meninggal dengan keadaan yang sama.

SHARE