Intensitas Buang Angin Ungkap Kesehatan Usus - Male Indonesia
Intensitas Buang Angin Ungkap Kesehatan Usus
MALE ID | Sex & Health

Jika Anda buang angin 20 kali dalam sehari maka itu hal yang normal. Memang hal itu luput dari perhatian kita. Namun ketika intensitas buang angin Anda lebih dari itu, maka kemungkinan ada sesuatu terkait kesehatan usus Anda.

Male IndonesiaPhoto: Pexels.com

Bila Anda banyak memakan kacang-kacangan, kubis, kembang kol, tepung beras, atau makanan yang mengandung serat, maka akan membuat sistem pencernaan Anda terus bergerak, membantu mengatur kadar gula darah dan kolesterol serta menjaga berat badan tetap terkendali. Namum efek sampingnya agak memalukan, yaitu akan mudah buang angin. Brokoli dan kacang-kacangan dikenal sebagai makanan yang banyak memproduksi gas dan kaya akan karbohidrat berjenis raffinose.

"Ketika kadar gula yang tidak dapat dicerna seperti raffinose mencapai usus besar, maka bakteri yang mendiami bagian dari saluran pencernaan kita akan memakannya dan menghasilkan gas sebagai produk sampingan," jelas Rebekah Gross MD, ahli gastroenterologi di Joan H Tisch Center for Women's Health, Pusat Medis Langone NYU, New York, dilansir dari readersdigest canada.

Gas dalam Usus
Kita selalu menelan udara bersamaan saat makan atau minum. Semakin banyak makan dan minum, semakin banyak pula udara yang ditelan. Udara itu masuk ke dalam perut dan bisa keluar melalui sendawa. Tetapi ada juga udara yang tertinggal lalu masuk ke saluran pencernaan bagian bawah dan dikeluarkan lewat buang angin.

"Biasanya, usus kecil membuat kontraksi kuat untuk menyapu makanan ke usus besar," kata Dr Gross. Tetapi kadang-kadang obat-obatan, infeksi, penyakit dan kondisi tertentu (seperti diabetes atau kondisi neuromuskuler) atau komplikasi dari operasi dapat mengganggu proses interaksi tersebut, yang memungkinkan bakteri untuk berdiam di usus kecil dan tumbuh besar sehingga menyebabkan agak sering buang angin.


IBS (irritable bowel syndrome) adalah suatu kondisi kronis yang memengaruhi usus besar. Kontraksi otot polos pada usus membuat makanan bergerak lebih kuat dari perut ke rektum. Hal itu, bagi pengidap IBS, akan menimbulkan gas dalam perut yang menyebabkan kembung, diare, hingga sembelit.

“Saraf di usus Anda mungkin juga menjadi sangat sensitif terhadap peregangan dan distensi yang disebabkan oleh gas dalam usus,” kata Dr Gross. Sehingga Anda akan merasa lebih sakit atau tidak nyaman. Dalam banyak kasus, perubahan pola makan dan gaya hidup dapat memberikan kenyamanan dan mengatur produksi gas di dalam perut menjadi teratur. "Olahraga misalnya, sangat penting bagi orang-orang dengan IBS, karena itu membantu mengeluarkan gas,” tambah Dr Gross.

Dia menjelaskan, laktase adalah enzim dalam cairan pencernaan yang menghidrolisis laktosa (kandungan gula di dalam susu) menjadi dektrosa dan galaktosa sehingga dapat diserap tubuh. Namun jika seseorang memiliki kadar laktase yang rendah, berarti laktosa masuk ke usus besar tanpa tercerna sehingga bakteri memecahnya dan menimbulkan masalah pada gas di dalam perut. Menurut Dr Gross, intoleransi laktosa adalah hal yang sangat umum, dan biasanya dimulai pada usia dewasa, ketika produksi laktase menurun tajam.

Demikian pula gluten yang ditemukan dalam gandum dan tepung biji-bijian. Dr Gross mengatakan, Anda yang memiliki penyakit celiac (seliak) jika mengonsumsi gluten akan memicu respons kekebalan di usus kecil Anda. Reaksi itu dapat menyebabkan kerusakan pada lapisan usus, memengaruhi kemampuan usus menyerap nutrisi, dan gelaja lain seperti buang angin berlebihan, diare, atau bahkan penurunan berat badan.

SHARE